Archive for 05/20/15

Dongeng Jorinde dan Joringel - Dahulu kala, ada sebuah kastil tua yang terletak di tengah hutan besar yang lebat, di mana di dalam kastil itu seorang wanita penyihir tua berdiam seorang diri. Pada siang hari, dia mengubah dirinya menjadi seekor kucing atau burung hantu, dan di malam hari dia berubah bentuk kembali menjadi manusia.

Dia bisa memancing hewan liar dan burung untuk datang kepadanya, lalu kemudian ditangkapkapnya untuk kemudian dimangsanya. Jika ada orang yang mendekat dalam jarak seratus langkah dari kastilnya, orang tersebut tidak bisa bergerak lagi hingga si Penyihir itulah yang melepaskannya untuk dibawa ke kastilnya. Setiap kali ada gadis yang masuk ke dalam lingkaran kastilnya, dia akan mengubahnya menjadi seekor burung dan mengurungnya dalam sangkar, lalu kurungan itu akan disimpan di dalam sebuah ruangan bersama sekitar tujuh ribu sangkar burung langka lainnya.
Suatu saat, ada seorang gadis yang bernama Jorinda, yang merupakan gadis tercantik yang pernah ada di dusun sekitar tempat tinggal si Penyihir itu. Gadis itu paling cantik bila dibandingkan gadis-gadis cantik lainnya di sekitar kastil penyihir tua tersebut. Sebelumnya, dia dan seorang pemuda tampan bernama Joringel telah berjanji untuk menikah. Mereka masih dalam masa pertunangan dan mereka senantiasa berjalan bersama-sama.

Suatu hari mereka pergi berjalan-jalan di hutan. Sesaat Jorinda teringat sesuatu dan berkata kepada Joringel, "Hati-hati, jangan berjalan terlalu dekat dengan kastil di hutan."
Sore itu adalah hari yang indah, matahari bersinar terang di antara dahan-dahan pepohonan yang terlihat berwarna hijau gelap, tetapi saat itu merpati di hutan menyanyikan lagu yang sedih.
Jorinda terharu dan menangis mendengar nyanyian tersebut, dan duduk di bawah sinar matahari sambil bersedih. Joringel ikut menjadi sedih. Kemudian saat mereka tersadar dan memandang sekeliling mereka, mereka menjadi bingung, karena mereka tidak tahu ke mana arah untuk pulang. Sementara matahari perlahan-lahan mulai terbenam.
Joringel tidak dapat bergerak dan berbicara saat penyihir membawa Jorinda
Dongeng - Jorinde dan Joringel
Joringel melihat sekeliling, dan melalui semak-semak dilihatnya dinding tua kastil yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk. Dia menjadi terkejut dan ketakutan. Saat itu Jorinda menyanyi:
"Burung kecilku, dengan leher berwarna merah,
Menyanyi sedih, sedih, sedih,
Dia menyanyi seolah-olah bersedih bersama Merpati,
Menyanyi lagu sedih...."

Saat Joringel melihat ke arah Jorinda, Jorinda telah berubah menjadi seekor burung bulbul dan bernyanyi, "Jug, jug, jug."
Seekor burung hantu dengan mata yang menyala, terbang mengelilingi burung bulbul tersebut dan berteriak tiga kali, "To-whoo, to-whoo, to-whoo!"
Joringel tidak dapat bergerak, dia berdiri di sana seperti sebuah batu, juga tidak bisa menangis ataupun berbicara, ataupun menggerakkan kaki dan tangannya. sementara itu, matahari sudah terbenam. Burung hantu itu sekarang terbang menuju ke semak-semak, dan setelah itu keluar dari semak-semak dalam bentuk seorang wanita tua yang bongkok, berkulit kuning dan bertubuh kurus, dengan mata berwarna merah dan besar serta berhidung bengkok, yang ujungnya hampir mencapai dagunya.
Dia bergumam kepada dirinya sendiri, lalu menangkap burung bulbul, dan membawanya pergi dalam genggaman tangannya. Joringel hanya terpaku dan diam di tempatnya, tidak bisa berbicara atau bergerak dari tempat tersebut.
Akan tetapi, akhirnya wanita tua itu datang kembali, dan berkata, "Saat bulan menyinari sangkar burung, biarkanlah dia bebas."
Tidak lama kemudian, Joringel pun terbebas. Dia jatuh berlutut dan memohon kepada wanita tua itu untuk melepaskan Jorinda, tetapi wanita tua itu mengatakan bahwa Joringel tidak akan pernah bertemu lagi dengan Jorinda, dan dia pun berlalu serta pergi meninggalkannya.
Joringel memanggil, menangis, dan meratap, tetapi semua sia-sia, "Ah, apa yang harus kulakukan?"
Joringel kemudian meninggalkan tempat itu, dan akhirnya tiba di sebuah desa. Di sanalah dia bekerja sebagai gembala domba dalam waktu yang cukup lama. Dia masih sering berjalan dan berkunjung ke sekitar kastil, tetapi tetap menjaga jarak dengan kastil.
Akhirnya suatu malam dia bermimpi bahwa dia menemukan bunga berwarna merah darah, di tengah-tengahnya terdapat sebuah mutiara yang besar dan indah. Dia bermimpi mengambil bunga tersebut dan membawanya ke kastil, dan dalam mimpinya segala sesuatu yang disentuh dengan bunganya, akan terbebas dari sihir. Dia juga bermimpi bahwa dengan cara itulah dia bisa membebaskan Jorinda.
Di pagi hari, ketika dia terbangun, dia mulai mencari bunga seperti dalam mimpinya tersebut di atas bukit dan di bawah lembah. Dia terus mencari, hingga pada hari kesembilan, pada pagi harinya, dia menemukan bunga yang berwarna merah darah. Di tengah-tengah bunga tersebut, terdapat sebuah tetesan embun yang besar, sama seperti bunga dalam mimpinya.
Dia lalu melakukan perjalanan siang dan malam dengan membawa bunga itu menuju ke kastil. Ketika dia berada dalam jarak seratus langkah, dia tidak menjadi patung tetapi dapat terus berjalan sampai ke pintu. Joringel menjadi sangat senang, dia menyentuh pintu dengan bunganya, yang dengan segera terbuka setelah tersentuh bunga. Dia berjalan melalui halaman, mengikuti suara kicauan burung-burung. Akhirnya dia menemukan ruang di mana kicauan tersebut berasal, dan di ruang tersebut dilihatnya penyihir sedang memberi makan burung-burung di tujuh ribu sangkar.
Namun si Penyihir itu amat marah ketika melihat Joringel yang datang. Dia murka, marah dan marah serta menyemburkan ludah beracun terhadap Joringel. Tetapi racun tersebut tidak bisa mengenainya dan terhenti sekitar dua langkah dari tubuhnya. Joringel tidak mempedulikan penyihir itu, dan memeriksa sangkar yang berisikan burung-burung untuk membebaskan Jorinda. Namun Joringel bingung, ada ratusan sangkar yang berisi burung bulbul, bagaimana dia bisa menemukan Jorinda?
Sesaat kemudian, dia melihat wanita tua itu diam-diam mengambil sangkar yang berisikan seekor burung bulbul di dalamnya, dan pergi menuju sebuah pintu. Dengan cepat Joringel melompat ke arahnya, menyentuhkan bunga yang dibawanya ke sangkar yang dibawa oleh si Penyihir itu. Bunga itu pun disentuhkan terhadap tubuh wanita tua yang jahat itu.
Saat itulah sihir wanita tua seketika sirna. Sekarang, dia tidak bisa lagi menyihir. Jorinda yang telah berwujud seorang gadis cantik lagi, berdiri tidak jauh dari Joringel.
Setelah itu, Joringel pun menyentuhkan bunganya ke semua burung yang ada dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian, semua burung telah berwujud menjadi manusia. Setelah kejadian itu, Joringel pun menggandeng Jorinda untuk pulang dan kembali ke dusun mereka. Di sana, mereka akhirnya hidup bahagia bersama.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng Jorinde dan Joringel ini adalah
Berjuanglah untuk mendapatkan sesuatu hal yang berharga dalam hidup.


Lihat Dongeng Berikutnya



        Kembali ke Home

Dongeng Jorinde dan Joringel (Brothers Grimm) | DONGENG ANAK DUNIA

Jack dan Keledai
Dongeng - jack si pemalas

Dongeng Jack si pemalas - Pada suatu masa, hiduplah seorang anak laki-laki yang bernama Jack dan hidup bersama dengan ibunya. Mereka sangatlah miskin dan ibunya yang sudah tua itu menghidupi mereka dengan berkerja sebagai penenun, tetapi Jack sendiri adalah anak yang sangat malas dan tidak pernah mau melakukan apapun selain berjemur di matahari pada hari yang panas, dan duduk di sudut rumah saat musim dingin. Sehingga dia dipanggil Jack si Pemalas. Ibunya sendiri tidak pernah dapat membuat Jack melakukan sesuatu untuknya, dan akhirnya suatu hari da berkata kepada Jack, bahwa apabila dia tidak mulai bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, ibunya itu tidak akan memperdulikan dia lagi.

Hal ini merisaukan Jack, dan dia lalu keluar rumah mencari pekerjaan pada hari berikutnya di tetangganya yang petani dan berhasil mendapatkan satu penny (mata uang Inggris); tetapi karena selama ini dia tidak pernah pulang kerumah sambil memegang uang, dia kehilangan uangnya ketika melewati sebuah sungai.
"Anak bodoh," kata ibunya, "kamu seharusnya menaruh uangmu di kantong."
"Saya akan melakukannya lain kali," kata Jack si Pemalas.
Hari berikutnya, Jack kembali keluar untuk bekerja pada seorang pembuat roti yang tidak memberinya apa-apa kecuali seekor kucing yang besar. Jack lalu mengambil kucing tersebut, dan membawanya dengan hati-hati di tangannya, tetapi kucing tersebut mencakar tangannya sehingga dia harus melepaskan kucing tersebut yang kemudian lari menghilang.
Ketika dia pulang kerumah, ibunya berkata kepadanya, "Kamu anak yang bodoh, seharusnya kamu mengikatnya dengan tali dan menariknya untuk mengikutimu."
"Saya akan melakukannya lain kali," kata Jack.
Pada hari berikutnya, Jack keluar dan bekerja pada seorang penjagal, yang memberikan dia hadiah berupa daging domba yang besar. Jack mengambil daging domba tersebut, mengikatnya dengan tali, dan menyeretnya di tanah sepanjang jalan, sehingga ketika dia tiba dirumah, daging domba tersebut telah rusak sama sekali. Ibunya kali ini tidak berkata apa apa kepadanya, dan pada hari minggu, ibunya mengharuskan dia membawa pulang kubis untuk dimasak nanti.
"Kamu harus membawanya pulang dan memanggulnya di pundakmu."
"Saya akan melakukannya di lain waktu," kata Jack.
Pada hari senin, Jack si Pemalas bekerja pada seorang penjaga ternak, yang memberikan dia seekor keledai sebagai upahnya. Walaupun Jack sangat kuat, dia masih merasa kewalahan untuk menggendong keledai itu di pundaknya, tetapi akhirnya dia memanggul keledai tersebut di pundaknya dan berjalan pelan ke rumah membawa hadiahnya. Di tengah perjalanan dia berjalan di depan sebuah rumah dimana rumah tersebut di huni oleh orang kaya dengan seorang anak gadis satu-satunya, seorang gadis yang sangat cantik, yang tuli dan bisu. Dan gadis tersebut tidak pernah tertawa selama hidupnya. Dokter pernah berkata bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa berbicara sampai seseorang bisa membuatnya tertawa. Ayahnya yang merasa sedih itu berjanji bahwa dia akan menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki yang bisa membuat anak gadisnya tertawa. Disaat itu juga sang gadis kebetulan melihat keluar jendela pada saat Jack lewat di depan rumahnya sambil menggendong keledai di bahunya; dimana keledai tersebut menendang-nendangkan kakinya ke udara secara liar dan meringkik-ringkik dengan keras. Pemandangan itu begitu lucu sehingga sang putri tertawa tergelak-gelak dan saat itu juga memperoleh kemampuannya untuk mendengar dan berbicara. Ayahnya yang begitu bahagia melihat anaknya telah dapat berbicara dan mendengar, memenuhi janjinya dengan menikahkan anak gadisnya itu dengan Jack si Pemalas, yang kemudian menjadi orang yang kaya juga. Mereka kemudian tinggal bersama-sama di sebuah rumah yang besar dengan ibu Jack dan hidup berbahagia hingga akhir hayat mereka.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng Jack si pemalas ini adalah
Buanglah rasa malas, dan berusahalah dengan giat untuk melakukan apapun pekerjaannya.


Lihat Dongeng Berikutnya



        Kembali ke Home

Dongeng Jack si Pemalas (Flora Annie Steel) | DONGENG ANAK DUNIA



Dongeng - si jempol
Pada jaman dahulu hiduplah sepasang kakek dan nenek yang tidak dikaruniai anak.
Setiap pagi mereka berdoa kepada Tuhan agar dikaruniai anak. Pada suatu hari, karena mereka selalu berdoa dengan khusuk, terdengarlah suara tangis bayi dari altar pemujaan mereka.
“Uwaa… uwaa…”
“Tuhan memberi kita seorang anak.” Dengan hati-hati kakek mengangkat bayi itu dari altar.
Dongeng - si jempol
Bayi itu adalah seorang anak laki-laki kecil.
“Manisnya bayi ini.”
Kakek dan nenek senang sekali bermain dengannya dan membuatkannya pakaian. Tetepi bayi itu hanya tumbuh sampai 

sebesar jempol, tidak membesar lagi. Kakek dan nenek menamakannya si Jempol. Walaupun kecil, si Jempol adalah anak laki-laki yang sehat dan periang. Tetapi anak-anak di dekat rumahnya mengganggu si Jempol dengan seekor katak. Ketika si Jempol pulang dengan menangis, kakek memberinya semangat, “anak laki-laki tidak boleh menangis.” 
Dongeng - si jempol
Pada suatu hari si Jempol berkata kepada kakek, “Walaupun badanku kecil, aku ingin menjadi seorang laki-laki kuat dan tak 

terkalahkan. Karena itu aku akan pergi ke kota berlatih tapa agar aku menjadi kuat. Biarkanlah aku pergi.” Kata si Jempol.
Kakek terkejut, tetapi katanya, “Untuk seorang anak yang baik, ada peribahasanya bila ia akan bepergian. Pergi, menjadi kuat, dan kembalilah.”
Nenek segera mempersiapkan keberangkatan si Jempol. Pedangnya dibuat dari jarum. Tudungnya dari mangkuk kayu, dan tongkatnya dari sumpit. Ia dipakaikan kimono baru yang indah. 
Add caption
“Wah, kau berbeda sekali, tampak seperti pemuda yang gagah.” Kata nenek dengan bangga. Si Jempol pun entah bagaimana merasa ada tenaga yang keluar dari dalam dirinya.
“Kakek, nenek, aku pergi.”
“Hati-hati, ya.”
“Setelah kau menjadi orang hebat, pulanglah.”
Kakek dan nenek melepas kepergian si Jempol, mereka terus saja melambaikan tangan. Si Jempol yang memakai tudung mangkuk dari kayu dan membawa tongkat sumpit, berjalan menyusuri jalan berbunga di musim semi, menuju kota. Setelah berjalan beberapa saat, ia tiba di semak belukar yang lebat. Bagi si Jempol, di situ benar-benar seperti hutan rimba. Ia sangat bingung, tidak tahu di mana barat dan timur. Ia tersesat. 
Dongeng - si jempol
Tiba-tiba, seekor semut lewat di dekat si Jempol yang sedang kebingungan.
“Semut, maukah engkau memberitahu aku jalan menuju kota?”
“Coba kupasang telingaku dulu.”
“Hei! Terdengar suara sungai. Kalau kau telat keluar dari semak belukar dengan pertolongan suara air sungai, turunlah ke sungai. Nanti kau akan tiba di kota.”
“Terima kasih, Semut.”
Setelah diberitahu caranya oleh Semut, si Jempol turun ke sungai dengan dibantu oleh ikan-ikan koi, ia naik perahu mangkuk kayu dan mendayung dengan sumpitnya. Lalu ikan-ikan berkata kepadanya.
“Hai, Jempol, kau mau pergi ke mana?”
“Aku mau pergi ke kota untuk berlatih tapa.”
“Kota masih jauh. Selamat, ya.”
Dengan dituntun oleh ikan-ikan, ia mendayung perahunya sampai akhirnya tiba di sungai yang tenang. 
Dongeng - si jempol
Lalu datanglah seekor kupu-kupu.
“Kupu-kupu, kota ada di mana?”
“Untuk pergi ke kota, teruslah pergi ke arah kanan, besok kau akan sampai di kota.”
“Terima kasih, Kupu-kupu.”
Si Jempol terus mendayung. Akhirnya si Jempol tiba di kota. Ia 
segera memanjat tonggak jembatan dan melihat berkeliling ke arah kota yang luas.
“Kota ternyata tempat yang ramai sekali.”
“Sekarang aku ingin menjadi seorang pengawal, aku akan mencari rumah seorang tuan tanah.” Kata si Jempol bersemangat. Si Jempol berjalan keliling kota, dan akhirnya tiba di sebuah rumah yang indah.
“Permisi. Aku ingin memohon sesuatu kepada anda.” Mendengar suara yang keras, dari dalam gedung itu keluarlah seorang tuan tanah dan putrinya.
“Oh! Kecilnya anak laki-laki ini.” 
Dongeng - si jempol
“Sebenarnya, apa keperluanmu?”
“Ya! Jadikanlah aku sebagai pengawalmu.”
“Menjadi pengawal? Apa yang bisa kau lakukan dengan badan yang 
kecil begitu?”
Tuan tanah itu terlepas tawanya karena takjub.
“Walaupun badanku kecil, kepandaian dan keberanianku tak terkalahkan oleh siap pun.” Pada saat itu “ngg…” seekor lebah datang akan menyengat wajah sang Putri.
Si Jempol dengan cepat menarik pedangnya dan mengusir lebah itu dengan menusuk sayap-sayapnya.
“Oh, terimakasih. Ayah, jadikanlah dia pengawalku.” 
Dongeng - si jempol
“Walaupun kecil, kau adalah seorang anak laki-laki pemberani. Mulai sekarang, jagalah Putriku.” Begitulah akhirnya si Jempol menjadi pengawal sang Putri.
Si Jempol, mulai sekarang kita akan selalu bersama.”
“Ya, apa pun yang terjadi aku akan menjagamu.”
Sang Putri berlaku amat baik kepada si Jempol.
“Jempol, untuk menjadi orang hebat, tidak bisa hanya dengan kuat 
saja. Kau juga harus belajar ilmu pengetahuan.” Karena sang Putri mengajar si Jempol dengan penuh perhatian, maka si Jempol jadi bisa menghafal huruf, membaca dan menulis. Si Jempol segera mengirim surat ke kampung halamannya. Kakek dan nenek merasa senang sekali.

Dongeng - si jempol
Pada suatu hari sang Putri berangkat menuju kuil. Tentu saja si Jempol menemaninya, tetapi betapapun cepatnya ia berjalan, sang Putri pasti tak terkejar. Putri pun berjalan sambil memasukan si Jempol dalam lengan bajunya.
Akhirnya ia tiba di jalan setapak di gunung, dan munculah monster-monster yang menakutkan.
“Hei! Tunggu, tunggu. Anak perempuan itu akan kubawa pulang dan kujadikan istriku.”
“Aah, toloooong.”
Monster itu bermaksud menangkap sang Putri. Si Jempol yang bersembunyi di lengan kimono sang Putri, segera melompat dan menghunus pedang jarumnya. 
Dongeng - si jempol
“Eei! Putriku yang cantik dikawal oleh orang sejempol!”
“Sakit! Huh, makhluk sombong!” teriak monster yang jarinya tertusuk. Lalu “hop” ia menelan si Jempol. Karena si Jempol ditelan monster, Putri pingsan. Tetapi, walaupun berada di dalam perut monster, siJempol terus berusaha.
“Akan kubunuh monster jahat ini.” Dengan pedangnya, si Jempol 
menusuk-nusuk perut monster.
“Sakiit, sakiiit. Toloooong!”
Karena tidak bisa menahan rasa sakit, akhirnya monster menangis. Monster itu kesakitan. Karena tak tahan, ia jatuh tersungkur. Saat itulah ia tergelincir jatuh dari tebing yang curam. 
Dongeng - si jempol
Si Jempol dalam sekejap melompat keluar dari perut monster dan menolong sang Putri. Para monster yang marah melawan dengan 
berani.
“Hei! Monster-monster. Hadapi si Jempol ini!” Monster-monster itu gemetar ketakutan.
“Jempol, maafkan kami. Kami tak akan berbuat jahat lagi.” Monster-monster yang lain lari ketakutan. Si Jempol menjadi iba.
“Maukah kau berjanji tak akan berbuat jahat lagi kepada orang?’
“Ya, aku berjanji. Sebagai tanda janjiku, kuberikan palu kecil berharga milik keluargaku.” Para monster itu sudah lari jauh sekali. Sang Putri datang mendekat. 
Dongeng - si jempol
“Jempol, terima kasih. Palu kayu kecil ini, apa?”
“Palu berharga milik keluarga monster. Kalau kita goyangkan palu 
ini, apa yang kita minta akan dikabulkan.”
“Wah, ajaib sekali. Jempol, apakah engkau mempunyai suatu keinginan?”
“Ya. Aku ingin menjadi manusia normal.”
“Itu ide yang bagus. Ayo, cepat coba goyangkan palu ini. Jempol, membesarlah.”
Setelah Putri menggoyangkan palu itu, apa yang terjadi? Tubuh si Jempol yang kecil menjadi semakin besar, dan dalam sekejap ia berubah menjadi seorang samurai muda yang tampan.
“Oh, Jempol. Kau adalah seorang yang tampan.”
Putri dan si Jempol pulang bersama-sama. Kakek amat terkejut melihat si Jempol yang telah menjadi samurai, ia bertanya apa yang telah terjadi. 
Dongeng - si jempol
“Jempol, terima kasih karena engkau telah menolong Putriku. Keberanianmu sangat mengagumkan. Menjadi besarnya engkau 
adalah karunia Tuhan.”
“Ya, aku amat bersyukur.”
“Ngomong-ngomong, aku punya satu permintaan.”
“Apakah permintaan tuan itu?”
“Maukah engkau menikah dengan anakku?”
Dengan malu si Jempol menjawab, “Ya, dengan senang hati.”
Putri pun memerah pipinya. Begitulah, si Jempol dan Putri menikah. Kemudian mereka mengajak kakek dan nenek tinggal di kota, dan mereka hidup bahagia selamanya.

Jadi yang dapat kita teladani dari dongeng Si Jempol ini adalah
Di mana sebenarnya letak kekuatan dari badan yang kecil!
Usaha keras dari si Jempol memberikan suatu semangat kepada kita, ya. 


Lihat Dongeng Berikutnya


                                                                 Kembali ke Home

Dongeng Si Jempol (Shogo Hirata) | DONGENG ANAK DUNIA

Dongeng Hercules dan pembawa gerobak - Seorang petani sedang mengemudikan gerobaknya di pinggir jalan yang berlumpur setelah hujan keras. Saat itu kuda-kudanya mengalami kesulitan untuk menyeret gerobak yang penuh muatan melalui lumpur yang dalam, dan akhirnya gerobak itu berhenti secara tiba-tiba ketika salah satu rodanya terperosok kedalam lumpur.

Petani itu kemudian turun dari tempat duduknya dan berdiri disamping gerobak itu sambil memandang gerobaknya, tetapi tidak ada upaya dan usaha yang dilakukan oleh petani yang membawa gerobak tersebut untuk mengeluarkan roda itu dari dalam lumpur. Dia hanya mengutuk dirinya sendiri akan nasib malang yang menimpanya, lalu dia berteriak-teriak memanggil Hercules dengan suara keras untuk datang membantu dan menolongnya, saat itulah Hercules muncul, dan berkata: "Letakkan pundakmu di roda itu dan perintahkan kudamu untuk menariknya. Apakah kamu pikir kamu akan dapat memindahkan gerobak itu hanya dengan memandangnya dan mencercanya? Saya tidak akan menolongmu kecuali kamu melakukan usaha untuk menolong dirimu sendiri."


Dan ketika petani itu menaruh pundaknya pada roda itu dan memerintahkan kudanya untuk menariknya, gerobak itu bergerak dengan sangat cepat dan akhirnya bisa keluar dari lumpur, dan dengan segera petani itu kembali mengendarai gerobaknya dengan hati yang senang karena mendapatkan satu pelajaran.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng hercules dan pembawa gerobak ini adalah


Berusahalah untuk mecoba menyelesaikan masalah terlebih dahulu dengan upaya sendiri sebelum meminta tolong kepada orang lain.



Lihat Dongeng Berikutnya



        Kembali ke Home

Dongeng Hercules dan Pembawa Gerobak (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA

Dongeng harimau, petapa dan anjing hutan yang cerdik - Suatu masa, seekor harimau terperangkap dalam satu perangkap kandang. Harimau tersebut mencoba dengan sia-sia untuk lolos dari tiang-tiang besi kandang dan berguling-guling dalam keadaan marah dan sedih ketika gagal lepas dari perangkap.

Kebetulan saat itu lewatlah seorang petapa. "Lepaskan saya dari kurungan ini, oh petapa yang saleh!" teriak sang Harimau.
"Tidak, temanku," balas Petapa secara halus, "Kamu mungkin akan memangsa saya jika saya melakukannya."
"Tidak akan!" sumpah sang Harimau; "sebaliknya, Saya akan sangat berterima kasih sekali dan akan menjadi budakmu!"
Setelah sang Harimau menangis dan mengeluh sambil menggerutu, hati petapa menjadi lunak dan akhirnya membuka pintu kandang. Melompatlah sang Harimau keluar, menerjang petapa yang sial, lalu berteriak, "Betapa bodohnya kamu! Tak ada yang bisa menghalangi saya untuk memangsa kamu sekarang, apalagi saya sangat lapar sekali!"
Petapa dan Harimau yang dilepaskan dari kandang
Dongeng - Harimau, petapa dan anjing hutan yang cerdik
Dengan ketakutan sang Petapa memohon agar dibiarkan hidup; akhirnya sang Petapa berjanji akan bertanya kepada tiga mahluk tentang keadilan dan Petapa itu juga berjanji akan memenuhi keputusan yang diberikan oleh tiga mahluk tersebut.
Jadilah Petapa itu bertanya kepada sebuah pohon yang besar tentang hal keadilan, dan sang Pohon menjawab dengan dingin, "Apa yang kamu keluhkan? Saya memberikan keteduhan dan tempat bernaung bagi semua yang lewat, dan mereka membalas ku dengan mematahkan cabang-cabangku untuk dimakankan ke ternak mereka? Jangan cengeng, bertindaklah seperti laki-laki!"
Kemudian petapa dengan hati sedih, melihat seekor sapi yang menarik gerobak dan bertanya tentang keadilan, "Kamu sangat bodoh karena mengharapkan terima kasih! Lihat saja saya! Dulunya saat saya memberikan mereka susu, mereka memberikan saya makanan yang enak, tetapi saat saya tidak lagi bisa memberikan susu, saya dipaksa menarik gerobak dan bajak, dan tidak lagi mendapatkan makanan lezat!"
Petapa yang sedih lalu bertanya kepada sebuah jalan.
"Tuan," kata sang Jalan, "betapa bodohnya engkau mengharapkan hal-hal yang tidak mungkin! Lihatlah saya, sangat berguna ke semua orang, kaya, miskin, besar, kecil, tetapi mereka tidak memberikan saya apa-apa selain debu dan kotoran!"
Akhirnya petapa ini berbalik untuk kembali dan di tengah jalan dia bertemu dengan seekor anjing hutan yang bertanya, "Ada masalah apa tuan Petapa? Anda terlihat sangat sedih seperti ikan kehilangan air!"
Petapa lalu menceritakan segala hal yang terjadi. "Sungguh membingungkan!" kata sang Anjing Hutan, maukah anda mengulang cerita anda kembali, karena segalanya campur aduk?"
Lalu Petapa mengulangi ceritanya kembali, dan sang Anjing Hutan masih menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Sangat aneh," katanya, "tetapi mari kita ke tempat kejadian, mungkin saya bisa memberikan penilaian."
Berdua mereka menuju ke tempat kejadian di mana saat itu sang Harimau sudah menunggu.
"Kamu pergi terlalu lama!" teriak sang Harimau, "tapi sekarang saya akhirnya bisa memulai makan siangku."
Petapa menjadi ketakutan dan memohon.
"Tunggu sebentar, tuanku!" kata sang Petapa, "saya harus menjelaskan sesuatu ke Anjing Hutan ini tentang kejadian tadi." 
Sang Harimau setuju dan ikut mendengarkan penjelasan Petapa ke Anjing Hutan.
"Oh, bodohnya saya!" teriak Anjing Hutan, "Jadi sang Petapa di dalam kandang, dan sang Harimau kebetulan lewat...."
"Puuuh!" potong sang Harimau, "bodohnya kamu! Saya yang berada dalam kandang"
"Tentu saja!" kata Anjing Hutan, berpura-pura gemetar ketakutan; "Ya! Saya berada dalam kandang - tidak - duh, bodohnya saya? Coba saya lihat lagi - Harimau ada di dalam Petapa, dan sebuah kandang kebetulan berjalan lewat - tidak - sepertinya tidak begitu! duh, saya tidak akan pernah bisa mengerti!"
"Kamu bisa mengerti!" jawab sang Harimau sambil marah karena kebodohan Anjing Hutan.
"Saya yang berada dalam kandang - apakah kamu mengerti?" tanya Harimau.
"Bagaimana anda bisa berada dalam kandang, tuan Harimau?" tanya Anjing Hutan kembali.
"Bagaimana? cara biasa saja tentunya!" jawab Harimau.
"Kepalaku mulai pusing!, Jangan marah tuanku, tetapi yang anda maksud cara biasa itu bagaimana?" tanya Anjing Hutan.
Harimau menjadi kehilangan kesabaran dan melompat masuk ke dalam kandang, lalu berteriak, "Cara begini! Apakah kamu mengerti sekarang?"
"Mengerti dengan jelas!" jawab Anjing Hutan sambil tersenyum dan menutup pintu kandang rapat-rapat, "menurut saya, sebaiknya anda tetap berada di dalam kandang itu!"
Sang Petapa saat itu berterima kasih sekali kepada Anjing Hutan atas bantuan dan kecerdikannya.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng harimau, petapa dan anjing hutan yang cerdik ini adalah
Gunakanlah kecerdikanmu untuk membantu orang lain.


Lihat Dongeng Berikutnya


        Kembali ke Home

Dongeng Harimau, Petapa, dan Anjing Hutan yang cerdik (Joseph Jacobs) | DONGENG ANAK DUNIA

Grethel memanggang ayam
Dongeng - Grethel yang cerdik
Dongeng Grethel yang cerdik - Dahulu kala ada seorang tukang masak yang bernama Grethel yang suka memakai sepatu bertumit merah, yang ketika keluar rumah selalu merasa bebas dan memiliki perasaan yang sangat baik. Ketika dia kembali ke rumah lagi, dia selalu meminum segelas anggur untuk menyegarkan diri, dan ketika minuman anggur tersebut memberi nafsu makan kepadanya, dia akan memakan makanan yang terbaik dari apapun yang dimasaknya hingga dia merasa cukup kenyang. Untuk itu dia selalu berkata "Seorang tukang masak harus tahu mencicipi apapun".
Suatu hari tuannya berkata kepadanya "Grethel, saya menunggu kedatangan tamu pada malam ini, kamu harus menyiapkan sepasang masakan ayam".
"Tentu saja tuan" jawab Grethel. Lalu dia memotong ayam, membersihkannya dan kemudian mencabuti bulunya, lalu ketika menjelang malam, dia memanggang ayam tersebut di api hingga matang. Ketika ayam tersebut mulai berwarna coklat dan hampir selesai dipanggang, tamu tersebut belum juga datang.

"Jika tamu tersebut tidak datang cepat" kata Grethel kepada tuannya, "Saya harus mengeluarkan ayam tersebut dari api, sayang sekali apabila kita tidak memakannya sekarang justru pada saat ayam tersebut hampir siap." Dan tuannya berkata dia sendiri akan berlari mengundang tamunya. Saat tuannya mulai membalikkan badannya, Grethel mengambil ayam tersebut dari api.
"Berdiri begitu lama dekat api," kata Grethel, "membuat kita menjadi panas dan kehausan, dan siapa yang tahu apabila mereka akan datang atau tidak! sementara ini saya akan turun ke ruang penyimpanan dan mengambil segelas minuman." Jadi dia lari kebawah, mengambil sebuah mug, dan berkata, "Ini dia!" dengan satu tegukan besar. "Satu minuman yang baik sepantasnya tidak disia-siakan," dia berkata lagi "dan tidak seharusnya berakhir dengan cepat," jadi dia mengambil tegukan yang besar kembali. Kemudian dia pergi keatas dan menaruh ayam tadi di panggangan api kembali, mengolesinya dengan mentega. Sekarang begitu mencium bau yang sangat sedap, Grethel berkata, "Saya harus tahu apakah rasanya memang seenak baunya," Dia mulai menjilati jarinya dan berkata lagi sendiri, "Ya.. ayam ini sangat sedap, sayang sekali bila tidak ada orang disini yang memakannya!"
Jadi dia menengok keluar jendela untuk melihat apakah tuan dan tamunya sudah datang, tapi dia tidak melihat siapapun yang datang jadi dia kembali ke ayam tersebut. "Aduh, satu sayapnya mulai hangus!" dan berkata lagi, "Sebaiknya bagian itu saya makan." Jadia dia memotong sayap ayam panggang tersebut dan mulai memakannya, rasanya memang enak, kemudian dia berpikir,
"Saya sebaiknya memotong sayap yang satunya lagi, agar tuanku tidak akan menyadari bahwa ayam panggang tersebut kehilangan sayap disebelah." Dan ketika kedua sayap telah dimakan, dia kembali melihat keluar jendela untuk mencari tuannya, tetapi masih belum juga ada yang datang.
"Siapa yang tahu, apakah mereka akan datang atau tidak? mungkin mereka bermalam di penginapan."Setelah berpikir sejenak, dia berkata lagi "Saya harus membuat diri saya senang, dan pertama kali saya harus minum minuman yang enak dan kemudian makan makanan yang lezat, semua hal ini tidak bisa disia-siakan." Jadia dia lari ke ruang penyimpanan dan mengambil minuman yang sangat besar, dan mulai memakan ayam tersebut dengan rasa kenikmatan yang besar. Ketika semua sudah selesai, dan tuannya masih belum datang, mata Grethel mengarah ke ayam yang satunya lagi, dan berkata, "Apa yang didapat oleh ayam yang satu, harus didapat pula oleh ayam yang lain, sungguh tidak adil apabila mereka tidak mendapat perlakuan yang sama; mungkin sambil minum saya bisa menyelesaikan ayam yang satunya lagi." Jadi dia meneguk minumannya kembali dan mulai memakan ayam yang satunya lagi.
Tepat ketika dia sedang makan, dia mendengar tuannya datang. "Cepat Grethel," tuannya berteriak dari luar, "tamu tersebut sudah datang!" "Baik tuan," dia menjawab, "makanan tersebut sudah siap." Tuannya pergi ke meja makan dan mengambil pisau pemotong yang sudah disiapkan untuk memotong ayam dan mulai menajamkannya. Saat itu, tamu tersebut datang dan mengetuk pintu dengan halus. Grethel berlari keluar untuk melihat siapa yang datang, dan ketika dia berpapasan dengan tamu tersebut, dia meletakkan jarinya di bibir dan berkata, "Hush! cepat lari dari sini, jika tuan saya menangkapmu, ini akan membawa akibat yang buruk untuk kamu; dia mengundangmu untuk makan, tetapi sebenarnya dia ingin memotong telingamu! Coba dengar, dia sedang mengasah pisaunya!"
Tamu tersebut, mendengarkan suara pisau yang diasah, berbalik pergi secepatnya. Dan Grethel berteriak ke tuannya, "Tamu tersebut telah pergi membawa sesuatu dari rumah ini!".
"Apa yang terjadi, Grethel? apa maksud mu?" dia bertanya.
"Dia telah pergi dan membawa lari dua buah ayam yang telah saya siapkan tadi."
Tuan dari Grethel mengejar tamunya
Dongeng - Grethel yang cerdik
"Itu adalah sifat yang buruk!" kata tuannya, dia merasa sayang pada ayam panggang tersebut; "dia mungkin mau menyisakan satu untuk saya makan." Dan dia memanggil tamunya dan menyuruhnya untuk berhenti, tetapi tamu tersebut seolah-olah tidak mendengarnya; kemudian tuannya tersebut mulai berlari mengejar tamunya dengan pisau masih ditangan dan berteriak,"hanya satu! hanya satu!" dia bermaksud agar tamu tersebut setidak-tidaknya memberikan dia satu ayam panggang dan tidak membawa kedua-duanya, tetapi tamu tersebut mengira bahwa dia menginginkan satu telinganya, jadi dia berlari semakin kencang menuju kerumahnya sendiri.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng grethel yang cerdik ini adalah
Janganlah menggunakan kecerdikanmu untuk berbohong atau berkata yang tidak sebenarnya.



Lihat Dongeng Berikutnya



        Kembali ke Home



Dongeng Grethel yang cerdik (Brothers Grimm) | DONGENG ANAK DUNIA

Gerombolan kambing hutan meninggalkan sang Gembala
Dongeng -  gembala kambing dan kambing liar

Dongeng gembala kambing dan kambing liar - Pada suatu hari yang dingin, dimana badai dan angin bertiup kencang, seorang gembala kambing menggiring kambing-kambingnya ke tempat perlindungan di sebuah gua. Ternyata dalam gua itu juga didapati segerombolan kambing hutan ikut berteduh. Sang Gembala sangat ingin membuat agar gerombolan kambing hutan hutan itu mau menjadi bagian dari ternaknya. Untuk itu, sang gembala memberi mereka makanan yang baik hingga sekenyang-kenyangnya. Sedangkan untuk kambing gembalaannya sendiri, hanya diberi makan sedikit. Saat cuaca menjadi terang, sang Gembala pun menggiring kambing-kambingnya keluar bersama dengan gerombolan kambing hutan. Saat gerombolan kambing hutan keluar dari gua, kambing tersebut meninggalkan sang Gembala dan meneruskan perjalanannya ke sepanjang bukit .

Inikah bentuk terima kasih kalian setelah saya memperlakukan kalian dengan baik dan memberi kalian makanan yang banyak?" tanya sang Gembala.

"Jangan berharap kami akan ikut gerombolan ternakmu," kata seekor kambing hutan. "Kami tahu bagaimana kamu akan memperlakukan kami nantinya saat segerombolan ternak baru datang, seperti kamu memperlakukan kambing-kambingmu saat kami datang tadi."
Tidaklah bijak untuk memperlakukan teman lama dengan jelek saat memiliki teman yang baru.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng gembala kambing dan kambing liar ini adalah
Tidak baik jika melupakan teman lama saat sudah memiliki teman yang baru.



Lihat Dongeng Berikutnya



        Kembali ke Home

Dongeng Gembala Kambing dan Kambing Liar (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA

Gembala menjadi ketakutan saat melihat tanduk kambingnya patah
Dongeng gembala dan kambing yang tanduknya patah - Seekor kambing terpisah dari kawanannya karena mencari rumput yang lebih hijau yang dilihatnya di kejauhan. Sang Gembala yang melihat kambing tersebut, berteriak memanggilnya, tetapi sia-sia karena sang Kambing tidak memperhatikan dan mendengarkan teriakannya. Sang Gembala lalu mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke kambing tersebut hingga salah satu tanduknya patah.
Sang Gembala menjadi ketakutan.
"Mohon jangan laporkan kepada tuanku," kata sang Gembala.
"Tidak perlu," jawab sang Kambing, "tandukku yang patah akan berbicara nantinya!"
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng gembala dan kambing yang tanduknya patah ini adalah
Perbuatan jahat tidak akan dapat ditutupi.


Lihat Dongeng Berikutnya



        Kembali ke Home

Dongeng Gembala dan Kambing yang Tanduknya Patah (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA

Penggembala yang ketakutan melihat serigala, berdoa minta pertolongan kepada Tuhan
Dongeng - Gembala dan Janji-janjinya
Dongeng gembala dan janji-janjinya - Seorang gembala domba, suatu hari menghitung jumlah gembalaannya, dan menemukan bahwa sejumlah domba telah hlang.

Karena marah, sang Gembala berkata dengan lantang bahwa dia akan menangkap dan menghukum pencuri yang mengambil dombanya. Sang Gembala menduga bahwa seekor serigalalah yang memangsa domba-dombanya dan untuk itu, sang Gembala berjalan menuju ke pergunungan berbukit di mana pada pegunungan tersebut terdapat sebuah gua yang menjadi sarang serigala. Sebelum berangkat, sang Gembala berdoa kepada Tuhan agar menolongnya menemukan pencuri ternaknya, dan untuk itu, sang Gembala berjanji akan mengurbankan seekor domba yang gemuk sebagai rasa syukurnya nanti.
Sang Gembala kemudian mencari kesana-kemari sepanjang hari, tetapi dia tak menemukan seekor serigalapun, dan saat dia melewati gua besar di sisi pegunungan, seekor singa besar berjalan keluar dengan membawa seekor domba dimulutnya. Dalam rasa ketakutan yang amat sangat, dengan badan dan kaki gemetaran, sang Gembala langsung berlutut dan berdoa kembali kepada Tuhan.
"Ya Tuhan, hamba tidak sadar bahwa apa yang tadinya saya minta akan menjadi seperti ini. Tolonglah hamba-Mu ini sekarang, hamba berjanji akan memberikan hewan kurban berupa seekor sapi yang besar apabila pencuri domba ini pergi menjauh dari sini!"
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng Gembala dan janji-janjinya ini adalah
Janganlah meminta sesuatu secara gamblang, hal-hal yang membuat kamu menyesal apabila benar-benar terjadi.


Lihat Dongeng Berikutnya



        Kembali ke Home

Dongeng Gembala dan Janji-Janjinya (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA

- Copyright © CERITA DONGENG - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -