Archive for 06/07/15
Kota Harmonali dilanda gerimis berhari-hari. Dimana-mana, orang terserang flu. Di ujung jalan, seorang anak SD bersin. Penjual lemper di dekat lampu merah sedang batuk-batuk. Seorang pengamen membalikkan badan menghadap pohon besar dan menyusut ingus dengan tisu. Tempat praktik dokter dipenuhi pasien yang terkena flu. Apotek dibanjiri pembeli obat flu.
Nyonya Cap adalah salah satu pasien yang mengantre di apotek untuk membeli obat flu. Sebelumnya ia ke dokter. Dokter menyuruhnya minum yang banyak, istirahat yang cukup, makan yang banyak, minum obat, dan terakhir jangan banyak bicara. Anjuran terakhir ini dirasa berat karena Nyonya Cap termasuk orang yang gemar bicara.
Pada penarik becak, ia bicara kalau punya emas satu lemari. Ketika membeli donat, ia bilang pada penjualnya kalau biasa makan donat terenak. Saat membeli baju, ia berkata pada pelayan toko kalau sering membeli pakaian mahal. Pada siapa saja, Nyonya Cap bicara. Kecuali pada benda mati, tentu saja.
Setelah mendapatkan obat, Nyonya Cap mampir ke supermarket. Ia ingin membeli melon. Seorang pelayan berdiri di samping tumpukan melon.
"Aku mau beli melon paling murah. Soalnya kemarin aku habis beli melon paling mahal. Berhari-hari aku makan melon mahal, sampai bosan. Rasanya sih enak. Manis seperti disuntik cairan gula. Dagingnya selembut puding busa. Aku sangat menikmatinya. Sekarang, aku ingin menikmati melon biasa. Tenggorokanku sakit, lidahku terasa pahit, percuma beli melon paling mahal. Aku juga tak suka kalau terlalu besar karena..."
UHUK! UHUK! UHUK! Nyonya Cap batuk-batuk sampai bahunya terguncang-guncang hebat. Nona pelayan yang berseragam putih hitam hanya bisa mengerjap-ngerjap memandangnya. Dalam hati ia membatin, kebanyakan bicara sih. Nyonya Cap melupakan melonnya. Sambil terbungkuk-bungkuk dan batuk, ia menuju ke rak air mineral. Ada seorang ibu memilih-milih minuman. Mulailah Nyonya Cap berkomentar.
"Astaga! kenapa bingung? bukankah semua kemasan ii berisi air putih? anda mencari yang paling murah? kasihan sekali! Kemarin aku habis minum air paling mahal. Rasanya seperti embun gunung di pagi hari. Sejuuuuuuk! Benar-benar nikmat dan aku....."
UHUK! UHUK! UHUK! Lagi-lagi Nyonya Cap batuk. Wajahnya sampai merah padam. Ibu yang memilih minuman hanya melongo. Buat apa minum air paling mahal kalau jadi batuk, kata si ibu dalam hati.
Nyonya Cap berjalan dengan kepala pening, terbungkuk-bungkuk dan batuk-batuk lebih parah dari sebelumnya. Ia melupakan air mineral dan kepingin membeli tisu. Namun, karena berjalan membungkuk sambil batuk disertai kepala pusing, Nyonya Cap tak memperhatikan arah langkahnya.
Tanpa sengaja, Nyonya Cap menabrak perempuan berambut cokelat yang sedang makan es krim. Es krim duriannya terlempar. Seorang nenek berambut serba putih lewat situ dan terpeleset. Ikan gurame belanjaannya terlontar mengenai wajah pelayan yang sedang mengepel. Sang pelayan kaget. Alat pelnya menyeruduk ember berisi cairan pembersih lantai. Isi ember pun tumpah. Dua orang yang jalan-jalan di sana terpeleset, menabrak rak sabun, rak panci, dan rak piring. Barang-barang di dalam rak kocar-kacir di lantai, bahkan beberapa piring pecah.
Pak Satpam supermarket kaget melihat banyak barang bertebaran di lantai.
"Tolong jelaskan, kenapa bisa begini?" tuntut pak satpam yang badannya mirip algojo.
"Aku terpeleset gara-gara licin," lapor pria yang menabrak rak piring.
"Ada air tumpah, lalu kami jatuh," imbuh pria berkumis yang menabrak rak panci dan sabun.
"Maaf aku tak sengaja menumpahkan ember karena kaget dengan ikan terbang yang mengenai wajahku," timpal nona pelayan yang mengepel.
"Ikanku! Aku terpeleset es krim hingga gurame di keranjangku melayang," keluh sang nenek berambut serba putih.
"Maaf, es krimku jatuh. Tiba-tiba ada orang bungkuk batuk-batuk menabrakku. Dia," sahut perempuan cokelat sambil menunjuk Nyonya Cap yang masih batuk-batuk sampai berjongkok.
Pak satpam mengajak Nyonya Cap ke ruangan pak kepala supermarket. Nyonya Cap diminta mengganti kerusakan piring yang pecah dan membantu membersihkan supermarket.
"Aku.... UHUK! UHUK! Tidak mau! UHUK! UHUK," teriak Nyonya Cap.
"Kalau tidak mau, terpaksa anda harus tinggal disini sampai besok," tegas pak kepala supermarket.
Nyonya Cap tak punya pilihan lain. Akhirnya ia bersedia membayar dan membantu para pelayan membereskan kekacauan sambil batuk-batuk dan bersungut-sungut. Nasihat dokter terngiang di telinganya, jangan banyak bicara.
Sekian cerita dari dongeng kisah Nyonya Cap, semoga memberikan nilai moral yang baik dan senang dalam membaca dongeng.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Kisah Nyonya Cap | DONGENG ANAK DUNIA
Cerita Dongeng Misteri Dasi ini ditulis oleh Yuli Anita

Ayah Carlo pembuat dasi yang hebat. Berbagai corak dan motif dasi telah dibuatnya. Polos, bergaris, polkadot, batik, dan lainnya. Banyak pula dasi yang dilukisnya sendiri.
Carlo anak yang rajin dan cerdas. Selain membantu ayahnya melayani pembeli di toko, Carlo pun belajar melukis dasi.
Sore ini, toko sedang sepi saat seorang laki-laki berwajah ramah muncul. Carlo terkejut. Orang itu adalah Doktor Agam, seorang peneliti lingkungan yang terkenal di kota Carlo. Hasil penelitiannya sangat bermanfaat bagi masyarakat.
"Ada yang bisa saya bantu,pak?" Carlo gugup.
"Tolong carikan dasi yang cocok buatku, nak..." kata Doktor Agam lembut. "Aku ada acara besok malam."
"Nama saya Carlo. Apa warna baju yang akan anda pakai besok?" tanya Carlo bersemangat.
"ehmmmm...putih polos."
Aha! Carlo tersenyum. Tidak sulit! Semua warna dan motif dasi akan cocok dengan baju warna putih. Carlo teringat pada dasi buatanya. Alangkah bangganya jika dasi buatannya dipakai oleh orang sehebat Doktor Agam. Dasi itu berwarna biru. Di dasi itu, Carlo melukis gelombang laut, rumput laut, dan dua ekor ikan yang sedang berenang.
"Kehidupan di laut harus selalu dijaga. Itulah makna lukisan dasi buatan saya ini, pak," jelas Carlo sambil menunjukkan dasi buatannya.
"Oh, luar biasa! Aku akan membelinya."
Carlo senang sekali. Ia segera membungkus dasi itu, lalu menyerahkannya kepada Doktor Agam.
"Carlo, kau anak yang mengagumkan. Datanglah besok malam ke rumahku," undang Doktor Agam.
Wow! Carlo terperangah. Kejutan yang hebat.
Esoknya, Carlo datang ke undangan Doktor Agam bersama ayahnya. Betapa bangganya Carlo melihat dasi buatannya dipakai oleh peneliti yang ramah itu.
"Selamat datang,"sambut Doktor Agam. "Ssst, apa dasi ini benar-benar cocok untukku?"
"Tentu, pak," bisik Carlo.
Rumah Doktor Agam ramai. Ternyata, malam ini ada acara penganugerahan penghargaan untuk Doktor Agam. Terlihat beberapa polisi yang berjaga. Menurut ayah Carlo, Doktor Agam akhir-akhir ini sering mendapat ancaman penculikan.
Ayah Carlo asyik mengobrol dengan tamu lain. Sementara itu, Carlo berkeliling di rumah Doktor Agam yang luas. Tak sengaja, Carlo bertemu dengan empat penari topeng yang akan memberi hiburan. Sayang, mereka sangat tidak ramah.
Acara dimulai. Para tamu berkumpul di ruang tengah yang luas. Doktor Agam tersenyum pada semua tamu. Penganugerahan penghargaan untuk Doktor Agam diserahkan oleh wakil dari pemerintah kota. Para tamu bertepuk tangan.
Lalu, para penari topeng muncul. Mereka menari dengan gagap gempita. Tiba-tiba lampu padam. Ruangan gelap gulita. Suasana kacau balau. Carlo ketakutan. Ia memegang erat ayahnya.
Untunglah lampu segera menyala. Acara kembali berlanjut. Tetapi, Carlo melihat sikap Doktor Agam yang tampak berbeda. Ia tak banyak senyum dan sering menunduk.
Setelah acara usai, para tamu berpamitan kepada Doktor Agam.
"Terima kasih telah mengundang kamu!" pamit Carlo. Doktor Agam tampak tak peduli.
"Silakan mengunjungi toko kami lagi. Kami akan membuatkan dasi terbaik untuk anda," kata Carlo. Doktor Agam tampak jengkel.
"Dasi? siapa peduli? Cepat pergi, anak kecil!" bisiknya menghardik.
Tentu saja Carlo terkejut. "Uh, aneh sekali Doktor Agam!"
Carlo beranjak pergi. Tak sengaja, matanya menatap dasi Doktor Agam. Mata Carlo terbelalak. Mulutnya menganga.
"Yuk pulang! Doktor Agam pasti kecapekan," ajak ayah Carlo.
"Di... dia b-bbbbukan Doktor Agam!" seru Carlo.
Ayah Carlo terkejut. Carlo menunjuk dasi yang dipakai oleh Doktor Agam.
Para tamu gempar. Polisi segera beraksi. Ternyata, saat lampu padam, Doktor Agam diculik. Ia digantikan oleh Doktor Agam palsu yang memakai topeng wajah mirip Doktor Agam. Para penari topeng itu ternyata anggota kawanan penculik. Mereka berkomplot dengan asisten Doktor Agam. Polisi berhasil menangkap mereka semua.
"Bagaimana kau tahu dia bukan Doktor Agam?
Dia meniru semua penampilan Doktor Agam, tanya seorang polisi pada Carlo, saat keadaan sudah tenang.
"Ada yang berbeda," kata Carlo. " Dasi Doktor Agam bergambar gelombang laut, raumput laut dan dua ikan uang berenang. Tetapi, gambar ikan pada dasi Doktor Agam asli menghadap ke kanan, sedangkan yang palsu menghadap ke kiri. Aku tahu, sebab akulah pelukisnya!"
Semua orang berdecak kagum. Mereka memuji ketelitian Carlo. Polisi kini tahu, asisten Doktor Agam yang membuat tiruan dasi bergambar ikan itu. Namun, tiruannya tidak sempurna. Ketika pulang, wajah Carlo berseri-seri. Ia senang, Doktor Agam berhasil dibebaskan dari penculikan.
Demikianlah cerita dongeng misteri dasi, semoga dapat menghibur dan senang membacanya.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
