Archive for 06/30/15
Dongeng Asal Usul Danau Toba - Toba...! Toba...! Toba....!!! Ayo kita ke ladang. Hari telah siang! Tak lama Toba keluar dari rumah panggungnya membawa jala, cangkul dan peralatan lain. Toba menghampiri Parlin sahabatnya. Ayo, kita pergi kawan! Toba berkata dengan semangat.
Toba dan Parlin tinggal di pedalaman bagian utara pulau Sumatra. Mereka hidup dari bertani dan menjala ikan di sungai.
Hari itu Toba memutuskan menjala ikan. Dengan semangat, Toba menebar jaring ke dalam sungai. Setelah menunggu beberapa lama, Toba menarik jala. Oh... seekor ikan besar, berwarna emas sangat indah, terperangkap di sana. Toba sangat girang. Dengan hati-hati Toba meraih ikan itu seraya memasukkannya ke dalam wadah.
Alangkah indahnya kau ikan. Aku akan memeliharamu, Toba berkata-kata sendiri. Setelah berkemas akhirnya Toba pun pulang. Sampai di rumah ikan tadi dipindah pada wadah yang lebih besar lalu ditaruhnya di tempat aman.
Esok paginya Toba bekerja seperti biasa. Pemuda yatim-piatu itu sangat rajin. Hasil panen padinya kali ini sangat baik, buah dar ketekunannya. Seusai memanen padi, Toba merasa lelah dan lapar. Ia pun beranjak pulang untuk bersantap siang.
Ketika sudah di dalam rumah Toba, sangat heran. Lauk-pauk telah terhidang di atas meja bambu. Aroma masakannya sungguh harum. Belum sirna rasa herannya, Toba melihat seorang wanita bersimpuh dekat perapian. Wanita itu sangat cantik. Rambutnya hitam legam panjang terurai. Wajahnya bak bulan purnama. Dengan rasa takjub Toba menghampiri.
Hei, wanita. Siapakah engkau? Darimana engkau datang? Toba bertanya.
Wanita itu menunduk. Air matanya menitik jatuh.
Kanda, akulah ikan yang engkau tangkap!
Hah...! Bagaimana mungkin? Toba semakin heran. Kanda telah lama aku memohon kepada Sang Pemilik Hidup, agar aku berubah menjadi manusia dan pria yang menemukanku hendaklah menikah denganku, kata si wanita menjelaskan sambil terisak. Mendengar penuturan wanita itu, Toba sangat terharu.
Oh...! Baiklah Dinda. Aku bersedia menikah denganmu, jawab Toba.
Tapi kanda, ada satu syarat yang tidak boleh dilanggar!
Apakah syarat itu dinda? Toba bertanya lagi.
Kanda harus bersumpah. Kelak jika kita mempunyai anak, kanda tidak boleh mengatakan bahwa dia anak ikan!
Baiklah dinda aku setuju.
Dua tahun setelah menikah, seorang anak laki-laki lahir. Mereka memberinya nama Samosir. Namun ada yang aneh pada diri Samosir. Hingga berusia tujuh tahun, dia senantiasa merasa lapar. Baru saja makan, dia sudah merasa sangat lapar kembali dan minta makan lagi. Lapar dan lapar, begitulah Samosir. Jatah santap siang untuk ayahnya yang dititipkan ibunya, acapkali dimakannya di tengah-tengah perjalanan dan Toba ayahnya hanya makan sisa-sisanya.
Karena jarang santap siang, tubuh Toba menjadi kurus dan lemah. Samosir juga sangat nakal. Dia suka memukul teman sepermainannya hingga menangis jika kehendaknya tidak dituruti. Nasehat ayah dan ibunya tidak pernah dihiraukan. Namun, Toba tetap sabar terhadap kelakuan Samosir yang tidak terpuji.
Mudah-mudahan anakku berubah menjadi anak yang baik, harap Toba dalam doa-doanya.
Saat itu cuaca sangat terik. Toba sangat lelah. Peluh bercucuran pada wajahnya yang tirus. Panen jagung saat itu berhasil baik. Sambil menunggu Samosir mengantar santap siang, Toba duduk di bawah pohon jambu yang rindang.
Tak lama kemudian Samosir pun tiba.
Kemarilah nak! Duduk dekat ayah!
Toba berkata pada anaknya.
Ini makan siangmu ayah! Samosir memberikan bungkusan titipan ibunya. Toba pun membuka bungkusan.
Samosir, mengapa isi bungkusan ini hanya tinggal tulang-tulang ikan? tanya Toba kepada anaknya. Wajahnya tampak gusar.
Ayah. Tadi aku merasa sangat lapar dan haus, hingga aku memakannnya, jawab Samosir.
Bah...! Bukankah tadi engkau telah makan? Toba mulai marah.
Tetapi ayah, tadi aku sungguh lapar. Makanan yang disediakan tak cukup bagiku karena ayah pelit. Ayah sungguh pelit! Samosir berteriak pada ayahnya.
Melihat tingkah anaknya yang semakin tidak sopan, Toba pun murka.
Anak tidak tahu terimakasih! Dasar kamu ini anak ikan!!!
Mendengar amarah ayahnya, Samosir sungguh terkejut. Hatinya sungguh sedih. Berlinang air mata Samosir bertanya pada ibunya.
"Ibu..ibu...ibu...! Mengapa ayah mengatakan aku anak ikan! Benarkah itu ibu?
Ibu Samosir sungguh terkejut. Tubuhnya lunglai. Menggigil gemetar, menahan duka yang amat sangat.
Anakku Samosir, pergilah ke atas bukit di sana, nak. Namun, ingatlah senantiasa aku ini adalah ibumu, kata ibu Samosir mengingatkan anaknya. Ooo...Sang Pemilik Hidup, suami hamba telah melanggar sumpahnya. Sekarang aku pun akan kembali ke alamku!
Tiba-tiba langit mendung, lalu hujan turun sangat deras, petir menyambar-nyambar, guruh menggelegar. Si wanita lenyap, kembali ke alamnya. Dari bekas telapak kakinya memancar mata air besar, menggenangi daratan luas hingga menjadi danau luas dan indah. Danau Toba.
DONGENG ASAL USUL DANAU TOBA | DONGENG ANAK DUNIA
Dongeng Si Kancil dan Kura-Kura - Si Kancil dan kura-kura sudah lama bersahabat. Pada suatu hari mereka pergi menangkap ikan di suatu danau. Berjumpalah si kancil dan kura-kura dengan seekor kijang. Kijang ingin ikut serta. Lalu si kancil, kura-kura dan kijang pergi bertiga.
Sampailah mereka di sebuah bukit, si kancil, kura-kura dan kijang bertemu dengan seekor rusa. Rusa juga ingin ikut. Segeralah rusa bergabung dalam rombongan.
Dalam perjalanan, di sebuah lembah berjumpalah mereka dengan seekor babi hutan. Babi hutan menayakan apakah ia boleh ikut.
"Tentu saja, itu gagasan yang baik, daripada hanya berempat lebih baik berlima," jawab kura-kura.
Setiba di bukit yang berikutnya, berjumpalah si kancil dan kura-kura beserta kijang, rusa dan babi dengan seekor beruang. Lalu mereka berenam melanjutkan perjalanannya. Kemudian mereka bertemu dengan seekor badak.
"Bagaimana kalau aku ikut," tanya badak.
"Mengapa tidak?", jawab mereka semua.
Bahkan bergabung pula seekor banteng. Dan berikutnya rombongan si kancil dan kura-kura bertemu dengan seekor kerbau yang akhirnya ikut serta. Begitu pula ketika mereka bertemu dengan seekor gajah.
Demikianlah, mereka bersepuluh berjalan berbaris beriringan mengikuti si kancil dan akhirnya mereka sampai ke danau yang dituju. Bukan main banyaknya ikan yang berhasil ditangkap.
Ikan kemudian disalai dengan mengasapinya dengan nyala api sampai kering. Keesokan harinya, beruang bertugas menjaga ikan-ikan ketika yang lainnya sedang pergi menangkap ikan. Tiba-tiba seekor harimau datang mendekat. Tak lama kemudian beruang dan harimau terlibat dalam perkelahian seru.
Beruang jatuh pingsan dan ikan-ikan habis disantap oleh harimau. Berturut turut mereka kemudian mendapat giliran menjaga ikan-ikan, yaitu gajah, banteng, badak, kerbau, babi hutan, rusa dan kijang, semuanya menyerah.
Sekarang tinggal si kancil dan kura-kura yang belum mendapat giliran menjaga ikan-ikan. Kura-kura dianggap tidak mungkin berdaya menghadapi harimau, maka diputuskanlah si kancil yang akan menjaga ikan-ikan tersebut.
Sebelum teman-temannya pergi menangkap ikan, si kancil meminta teman-temannya untuk mengumpulkan rotan sebanyak-banyaknya. Lalu masing-masing dipotong kira-kira satu hasta. Tak lama kemudian tampak si kancil sedang sibuk membuat gelang kaki, gelang badan, gelang lutut dan gelang leher.
Sebentar-sebentar kancil memandang ke langit seolah-olah ada yang sedang diperhatikannya. Harimau terheran-heran, lalu perlahan-lahan mendekati si kancil. Kancil pura-pura tidak mempedulikan harimau.
Harimau bertanya, "Buat apa gelang rotan bertumpuk-tumpuk itu?".
Jawab si kancil, "Siapa yang memakai gelang-gelang ini akan dapat melihat apa yang sedang terjadi di langit".
Lalu dia menengadah sambil seolah-olah sedang menikmati pemandangan di atas. Terbit keinginan harimau untuk dapat juga melihat apa yang terjadi di langit.
Bukan main gembiranya si kancil saat mendengar permintaan harimau. Si kancil meminta harimau duduk di tanah dan melipat tangan dan kaki. Lalu dilingkarinya kedua tangan, kedua kaki dan leher harimau dengan gelang-gelang rotan sebanyak-banyaknya sehingga harimau tidak dapat bergerak lagi.
Setelah dirasa cukup, rombongan si kancil berniat kembali pulang ke rumah, akan tetapi mereka bertengkar mengenai bagian masing-masing. Mereka berpendapat, siapa yang berbadan besar akan mendapatkan bagian yang besar pula.
Si Kancil sebenarnya tidak setuju dengan usulan tersebut. Lalu si kancil mencari akal. Tiba-tiba melompatlah si kancil dan memberi tanda ada bahaya datang.
Mereka semuanya ketakutan dan terbirit-birit melarikan diri. Ada yang jatuh tunggang langgang, ada yang terperosok ke lubang dan ada pula yang tersangkut di akar-akar pohon. Hanya si kancil dan kura-kura yang tidak lari. Lalu si kancil dan kura-kura berdua pulang dan berjalan berdendang sambil membawa banyak sekali bungkusan salai.

