Archive for 06/04/15

Dongeng Negeri Kehidupan

dongeng negeri kehidupan

Pippi  kurcaci tinggal di negeri kehidupan. Disana, matahari bersinar cerah dan hutan menyediakan banyak buah dan biji-bijian. Namun, Pippi kurcaci tidak bahagia tinggal disana.
Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Pippi kurcaci bangun saat matahari telah tinggi. Sinar matahari yang panas menyinari wajah Pippi kurcaci. Itu membuatnya terkejut.

"Oh!" gumam Pippi kurcaci. Ia harus segera pergi ke hutan mencari buah-buahan dan biji-bijian jika tidak ingin kelaparan.
Pippi kurcaci berjalan munuju hutan dengan malas. Matahari yang bersinar terik membuatnnya kepanasan. Selain itu, Pippi kurcaci belum mengisi perutnya dengan apapun kecuali segelas air putih. Ia tidak memiliki sedikit pun makanan.

Saat Pippi kurcaci berjalan menuju hutan, ia berpapasan dengan beberapa kurcaci lain. Masing-masing membawa sekeranjang penuh buah-buahan segar dan biji-bijian di punggung.

"Hai, Pippi!" sapa Terre kurcaci. "Mau kemana?"
Pippi kurcaci menggerutu. Teman-temannya tahu kemana ia hendak pergi. Kenapa harus bertanya? Teman-teman Pippi kurcaci tertawa melihat wajah Pippi kurcaci cemberut.
"Apa yang akan kau dapat di hutan sesiang ini?" senyum Pobi kurcaci.
Lagi-lagi, Pippi kurcaci menggerutu. Tentu saja teman-temannya tahu tentang buah-buahan dan biji-bijian yang akan ia dapatkan. Kenapa hal itu harus ditanyakan?
Pippi tidak menjawab. Ia terus melangkah memasuki hutan diiringi tawa teman-temannya.
Sepanjang siang hingga sore, Pippi kurcaci berada di hutan. Ia hanya mendapatkan buah-buahan yang telah busuk dan sedikit biji-bijian.

"Huh!" gerutu Pippi kurcaci. "Hutan tidak pernah berbaik hati padaku. Aku selalu saja mendapatkan buah-buahan yang telah busuk dan sedikit biji-bijian."
Hari telah sore ketika Pippi kurcaci keluar hutan. Tiba di rumah, Pippi kurcaci mencuci baju-bajunya. Tetapi matahari telah terbenam sehingga cucian baju Pippi kurcaci tidak kering.
"Huh!" Matahari tidak pernah berbaik hati padaku. Setiap kali aku mencuci baju, matahari tidak lagi bersinar sehingga bajuku tidak kering," gerutu Pippi kurcaci.

Keesokan harinya, Pippi kurcaci pergi ke istana menghadap Ratu kurcaci. "Aku ingin Ratu menghukum hutan karena hanya memberiku buah-buahan yang telkah busuk dan sedikit biji-bijian. Juga, menghukum matahari karena telah membuat cucian bajuku tidak cepat kering," mohon Pippi kurcaci pada Ratu kurcaci.

Beberapa saat Ratu kurcaci berpikir, lalu ujarnya," benarkah hutan dan matahari tidak adil?"
"Ya!" jawab Pippi kurcaci. "Hutan hanya memberi buah-buahan segar dan biji-bijian pada teman-temanku. Matahari juga hanya mengeringkan baju mereka!"
Ratu kurcaci meminta pengawal kerajaan untuk menghadirkan teman-teman Pippi kurcaci ke istana. Ratu kurcaci bertanya kepada teman-teman Pippi kurcaci, "apa yang telah hutan berikan pada kalian selama ini?"

Teman-teman Pippi kurcaci yang hadir di istana menjawab serempak, "hutan telah memberi kamu buah-buahan yang segar dan banyak biji-bijian."
"Dan apa yang telah matahari berikan pada kalian selama ini?"
Teman-teman Pippi kurcaci menjawab serentak,"matahari telah memberi kami sinar yang terang sehingga cucian baju kami cepat kering."
"Betul yang aku katakan, bukan?" gerutu Pippi kurcaci.

Akan tetapi, Pippi kurcaci terkejut melihat Ratu kurcaci menggelengkan kepala. "Coba tanyakan dulu pada teman-temanmu. Kapan biasanya mereka bangun!"
"Kami bangun saat matahari belum terbit,"jawab teman-teman Pippi kurcaci.

"Coba tanyakan kembali pada teman-temanmu, kapan biasanya mereka pergi ke hutan mencari biji-bijian dan buah-buahan!" kata Ratu kurcaci.
"Kami pergi ke hutan pagi-pagi sekali. Di saat hewan-hewan belum bangun dan belum memakan buah-buahan dan biji-bijian."

"Coba tanyakan pula pada teman-temanmu, kapan biasanya mereka mencuci baju!" ujar Ratu kurcaci.
"Kami mencuci saat matahari masih bersinar terang."

"Sekarang jawab pertanyaanku, apakah kau melakukan hal yang sama seperti teman-temanmu?" tanya Ratu kurcaci pada Pippi kurcaci.
Pippi kurcaci menggeleng, lalu menunduk malu. Kini, ia mengerti. Ia yang kurang pandai mengatur kegiatan.



Lihat Dongeng Berikutnya


        Kembali ke Home

Dongeng Negeri Kehidupan | DONGENG ANAK DUNIA

Dongeng Saat Marah ditulis oleh Pupuy Hurriyah

Negeri Belanda adalah negeri para kurcaci. Salah satu kurcaci yang tinggal di negeri itu adalah Zizi. Semua kurcaci di negeri Belanda mengenal Zizi. Sayang, mereka mengenalnya sebagai kurcaci pemarah. Hanya karena hal kecil, Zizi bisa marah.

Siang ini Zizi Kurcaci bermalas-malasan di rumah jamurnya. "Hu-uh! Panas sekali!" Zizi marah karena cuaca terasa panas. "Ke mana, sih, Peri Angin?" Zizi marah-marah. "Jangan-jangan, peri angin tidur. Pantas saja udara panas sekali."

Zizi kurcaci terus marah-marah. Sebentar-sebentar duduk, sebentar-sebentar berdiri. "Aku tidak suka panas begini!" Zizi membuka jendela rumahnya lebar-lebar. Saat itu, Zizi melihat teman-temannya mengantre membeli jus bubble buah. Hm, asyik juga panas-panas begini minum jus bubble buah. Zizi tersenyum. Cepat Zizi berlari ke teman, ikut mengerubungi Pak Jupiter, penjual jus bubble buah.

"Aku beli jus buah stroberi ya," pinta Zizi.
"Kamu harus mengantre, Zizi," kata Kaka.
"Betul!" sahut Mima. "Kamu kan baru datang."

"Hu-uh!" Zizi menunjukkan wajah tidak suka. Zizi terus saja mendesak ke depan. "Aku dulu, Pak Jupiter."
"Kami dulu, pak Jupiter. Kami sudah mengantre sejak tadi." Haya dan Hayu terjepit desakan Zizi.
"Aku dulu! Ayo, cepat!" Zizi tidak menghiraukan protes Haya dan Hayu, si kurcaci kembar.

"Zizi! Kamu harus antre. "Teman-teman yang lain mulai protes.
"Ya! Kamu harus antre," perintah Pak Jupiter pada Zizi. "Kamu datang terakhir jadi harus menunggu giliran berikutnya."
"Hu-uh!" Zizi menghentakkan kakinya. "Aku tidak mau jus bubble buah!" Zizi pun berlari meninggalkan antrean. 

Zizi duduk di bawah pohon beringin mungil. Wajahnya memerah menahan marah. Apalagi, saat satu per satu teman-temannya mendapatkan satu gelas jus bubble buah.
"Hu-uh! Tidak! Aku tidak mau jus bubble buah," gerutu Zizi memendam marah.
Akhirnya antrean jus bubble buah usai. Pak Jupiter melihat Zizi duduk sendiri. Ia melambaikan tangan. "Zizi, sini! Ini jus bubble buah stroberimu."
Akan tetapi, Zizi tidak menghiraukan panggilan pak Jupiter. Zizi berlari pulang, padahal tenggorokannya sangat haus. Ia ingin sekali minum jus bubble stroberi.

Sore harinya, Zizi bermain ular naga bersama teman-temannya. Mereka dibagi menjadi dua regu. Saat pemilihan ketua regu, lagi-lagi Zizi marah. Zizi ingin menjadi kepala regu. Waah seharusnya, kepala regu itu dipilih, bukan memilih diri sendiri.
"Aku mau jadi kepala regu bintang,"kata Zizi. Teman-teman Zizi tidak bisa menolaknya. Lalu mereka memilih Haya sebagai kepala regu bulan.
Selama bermain ular naga, Zizi marah-marah terus. Setiap kali ada teman yang memilih ikut regu bulan, Zizi marah.

"Seharusnya kamu ikut regu bintang!" Zizi marah pada Beta.
"Uh kenapa sih pilih regu bulan?" Zizi marah pada Miomi.
"Zizi, teman-teman boleh memilih sendiri, mau ikut regu bintang atau bulan," bela Nila.
"Betul, Zizi." Sasa, Fuji dan Ruben mengingatkan Zizi. 
"Ah aku tidak mau main lagi!" Zizi marah.
"Tidak perlu marah, Zizi. Ayo kita main lagi," ajak Beneto.
"Tidak! Aku tidak mau lagi melihat kalian!" Zizi  berlari pulang.

Saat itu peri angin bertiup, membawa terbang semua teman Zizi. Zizi tidak melihat kejadian itu.
Setiba di rumah, Zizi senang. Ia tidak lagi mendengar suara teman-temannya bermain. "Sendiri begini, lebih menyenangkan." Zizi merebahkan diri di sofa.
Awalnya, Zizi senang karena tidak tampak seorang pun temannya di depan rumah. Tetapi lama-lama, Zizi merasa kesepian.

Usai mandi sore, Zizi berlari ke rumah Gio yang tinggal di sebelah kanan rumahnya.

"Gio!" panggil Zizi.
Tidak ada sahutan Gio.
Zizi berlari ke rumah Beta. Namun, tidak juga terdengar suara Beta.
Zizi menuju rumah Popi. Zizi ke rumah Haya dan Hayu. Zizi cepat-cepat ke rumah Fex.

"Oh! Kemana mereka pergi?" Zizi ketakutan. Tidak seorang pun temannya ada di rumah.
"Bukankah saat marah, kamu tidak mau melihat teman-temanmu lagi?" Peri angin berbisik lembut d telinga Zizi.
Oh! Zizi mendekap mulutnya erat-erat. Zizi sungguh takut semua temannya benar-benar pergi.

"Aku ingin teman-temanku kembali," gumam Zizi.
"Saat mereka kembali, apakah kau akan marah-marah lagi? Kau selalu marah pada siapa saja!" Peri angin mengingatkan.
Zizi terdiam. Kemudian, ia menggeleng. "Aku janji tidak akan marah-marah lagi. Aku tidak mau jadi kurcaci pemarah."
Peri angin tersenyum melihat Zizi benar-benar menyesal.

"Zizi!"
Suara ramai mengagetkan Zizi. Zizi berlari menyambut teman-temannya.
"Kalian dari mana saja?" Zizi memeluk semua temannya. "Aku tidak mau kehilangan kalian."
Teman-teman Zizi mengedipkan mata pada peri angin.
Hmmm, kamu tahu ke mana teman-teman Zizi pergi saat Zizi marah? Wah peri angin rupanya menyembunyikan mereka di balik awan.



Lihat Dongeng Berikutnya


        Kembali ke Home

Dongeng Asli Indonesia Saat Marah | DONGENG ANAK DUNIA

- Copyright © CERITA DONGENG - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -