Archive for 06/03/15
Dongeng Indonesia yang berjudul Pangeran Pulang Perang ini ditulis oleh Palris Jaya.
Pangeran Pulang Perang
Dari kejauhan tampak kepulan debu. Pasukan berkuda pangeran Dakka berlari dengan gagah. Mereka baru pulang dari berperang. Pangeran Dakka dan pasukannya berhasil mengalahkan gerombolan pemberontak kerajaan. Sebentar saja pasukan Pangeran Dakka memasuki gerbang kerajaan.
Namun, pangeran Dakka merasakan keanehan. Tidak ada pawai rakyat yang menyambut mereka. Tidak ada tabuhan grup pemusik istana mengiringi pangeran Dakka. Pangeran Dakka heran. Suasana kerajaan berjalan seperti biasa. Para pedagang sibuk melayani pembeli di pasar. Petani menggarap sawah dibantu kuda dan keledai. Para peternak mengawasi sapi, biri-biri dan domba di padang gembala, tidak memedulikan pasukan pangeran Dakka yang melintas di jalan utama.
Pangeran Dakka menjadi sedih dan kecewa. Apakah Raja tidak tahu mereka pulang?
"Pengawal, apakah kau sudah mengirimkan kabar kepada Raja?" tanya pangeran Dakka pada pengawal di sebelahnya.
"Sudah, pangeran. Saya mengirimkan seorang prajurit kurir lebih dahulu,"jawab pengawal.
Pangeran Dakka melanjutkan perjalanan dengan wajah murung. Dia dan pasukannya langsung menuju lapangan istana. Setelah itu, pangeran Dakka membubarkan anggota pasukan supaya mereka bisa beristirahat.
Pangeran Dakka berlari ke dalam istana.
"Pengawal, aku ingin bertemu baginda Raja,"ucap Pangeran Dakka. Tetapi ruang utama terlihat kosong. Hanya pengurus istana yang menyambut pangeran Dakka.
"Baginda Raja sedang pergi memenuhi undangan kerajaan Utara untuk berburu kijang,"jawab pengurus istana.
"Tetapi, Baginda Raja tahu, kan, aku dan pasukanku berhasil mengalahkan pemberontak? Kenapa tidak ada yang menyambut kami sama sekali?" tanya pangeran Dakka gusar.
Pengurus istana tidak berkata apa-apa karena takut melihat pangeran Dakka marah. Kemudian, pangeran Dakka pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri.
Keesokan harinya, pangeran Dakka datang ke istal. Kandang kuda itu berada di bagian terbelakang istana. Pangeran Dakka ingin memeriksa keadaan kuda-kuda mereka. Sebelum dipergunakan lagi bila ada tugas yang diberikan kerajaan, kuda-kuda itu harus dalam keadaan sehat dan kuat.
Pangeran Dakka menyuapi seekor kuda berbulu hitam dengan rumput segar. Kuda itu memakan rumput dengan lahap.
"Pangeran terlihat sedih? Bukankah pangeran baru saja berhasil mengalahkan pemberontak?" tanya pak Jero, pengurus istal.
Pak Jero sudah tua. Rambut dan kumisnya berwarna putih. Tetapi tubuh pak Jero terlihat kuat, karena tugasnya merawat kuda-kuda yang ada di istal.
"Apakah artinya kemenangan saya, bila Raja dan rakyat tidak menghargainya?" keluh pangeran Dakka.
"Ketika saya dan pasukan pulang perang, Raja tidak ada di istana. Raja malah pergi mengunjungi kerajaan tetangga yang sedang menyelenggarakan pesta berburu kijang. Rakyat tidak menyambut kami di gerbang kerajaan. Apalagi, ini adalah pertama kali saya memimpin perang," kata pangeran Dakka dengan wajah murung.
"Saya mengerti kekecewaan pangeran," ucap pak Jero. Tangan pak Jero menepuk-nepuk punggung kuda hitam. Kuda itu mendengus senang.
"Raja dan rakyat negeri sangat berterima kasih kepada pangeran dan pasukan pangeran. Berkat perjuangan pangeran, negeri kita tetap aman," ujar pak Jero.
Kemudian pangeran Dakka dan pak Jero berjalan keluar istal. Mereka terus berjalan meninggalkan istana.
Pangeran Dakka dan pak Jero tiba di sebuah pasar yang sedang ramai. Wajah-wajah penduduk terlihat berseri-seri dan penuh senyum. Sesekali terdengar suara gelak-tawa para petani dan pedagang. Beberapa orang anak kecil berlarian dan tertawa. Beberapa orang penduduk mengangguk sambil tersenyum lebar kepada pangeran Dakka. Pangeran Dakka membalas dengan lambaian tangan. Wajah pangeran Dakka lalu berhias senyuman.
"Apakah yang pangeran rasakan sekarang?" tanya pak Jero.
"Saya merasa bahagia melihat para penduduk hidup dengan wajah penuh senyuman," jawab pangeran Dakka. Rasa sedih dan kecewa di dadanya telah lenyap.
"Rasa bahagia itu adalah hadiah atas keberhasilan pangeran. Senyuman para penduduk itu adalah penghargaan untuk pangeran dan pasukan," jelas pak Jero bijak.
Pangeran Dakka mengangguk tanda setuju. Bukankah membela negeri adalah kewajibannya sebagai pemimpin kerajaan, calon pengganti Raja kelak? Pasti ada penghargaan untuk setiap perbuatan baik, kata pangeran Dakka dalam hati.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Indonesia Pangeran Pulang Perang | DONGENG ANAK DUNIA
Dongeng Almira Si Peri Penjaga Hutan ditulis oleh Siti Nurlaela
Almira mendapat tugas menjaga hutan. Biasanya, tugas itu dilakukan oleh Mama Almira. Karena Mama sedang sakit, tugas menjaga hutan diserahkan kepadanya.
"Kelak, kau akan menggantikan tugas mama. Nah, anggaplah hari ini sebagai latihan untukmu," ucap mama.
Mama kemudian memberikan tongkat ajaib kepada putrinya. Almira sangat gembira. Dengan tongkat ajaib itu, ia bisa membantu hewan-hewan di hutan. Ia pernah melihat mama menolong rusa yang terluka, anak burung yang terjatuh dari sarang, anak burung yang tersesat, dan singa yang kena jebakan pemburu. Almira ingin seperti mama. Setelah berpamitan, peri mungil itu mulai berkeliling hutan. Almira melihat seekor jerapah melintas.
"Kasihan jerapah itu,"ia bergumam.
"Jerapah kepayahan berjalan gara-gara lehernya yang panjang. Aku akan membuat lehernya jadi pendek."
Almira lalu menggerakan tongkat ajaibnya.
"Hah, apa yang terjadi denganku?!" pekik Jerapah.
"Kenapa leherku jadi pendek begini?"
Almira lalu bertemu gajah.
"Belalaimu panjang sekali, gajah. Penglihatanmu pasti terganggu. Aku hilangkan saja, ya?" Almira lalu menggerakan tongkat ajaibnya.
"Belalaiku! Apa yang terjadi dengan belalaiku?" tanya gajah ketakutan. Belalainya perlahan-lahan melesak. Aneh sekali melihat gajah tanpa belalai.
"Wah, harimau...cakarmu panjang dan tajam," komentar Almira saat ia berpapasan dengan harimau. "Mamaku bilang, kuku tak boleh panjang. Kuku panjang jadi sarang kuman. Harimau, aku akan membuat cakarmu jadi pendek selamanya. "Almira menggerakan tongkat ajaibnya. Harimau terkejut.
Tak lama kemudian, mama memanggil Almira pulang.
"Jerapah, gajah dan harimau melapor pada mama. Mereka bilang kau telah berbuat usil. Leher jerapah kau sihir jadi pendek. Belalai gajah kau lenyapkan. Harimau pun kehilangan cakarnya gara-gara ulahmu."
"Almira tak bermaksud jahat,ma....," ucap Almira tertunduk. Ia lalu menjelaskan alasannya menyulap hewan-hewan itu. Mama geleng-geleng kepala mendengar pengakuan putrinya.
"Mama tahu maksudmu baik. Tapi, bagian tubuh hewan-hewan itu memiliki kegunaan. Leher jerapah yang panjang berguna untuk mengambil pucuk-pucuk daun pada cabang yang tinggi. Belalai gajah berguna untuk mencabut rumput dan mengambil air. Cakar harimau yang panjang dan tajam berguna untuk menangkap mangsa. Tanpa itu semua, hewan-hewan tersebut tidak bisa mendapatkan makanan. Mereka bisa mati," mama menjelaskan.
Almira tak menyangka perbuatannya justru bisa mencelakai hewan-hewan itu. Ia meminta maaf pada mama.
"Sekarang, segera temui jerapah, gajah dan harimau. Kembalikan mereka seperti semula! Jangan lupa minta maaf kepada mereka, ya..." kata mama Almira mengangguk. Ia bergegas pergi ke hutan mencari ketiga hewan itu. Almira mengembalikan bentuk mereka seperti semula. Tentu saja, sambil meminta maaf.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home