Archive for 06/10/15

Dongeng Cermin di Dinding ditulis oleh Dian Kristiani

Dongeng Cermin di Dinding - Cermin, cermin di dinding, siapakah yang paling cantik di kota ini?" tanya Reina. Cermin besar yang tergantung di tembok kamar Reina pun menjawab, "Kaulah Reina yang cantik. Sayang, bukan kau yang memiliki hati terbaik."


Dongeng Cermin di Dinding

"Lagi-lagi jawabanmu seperti itu!" teriak Reina kesal. "Aku kan hanya bertanya siapa yang paling cantik? Aku tak perlu menjadi anak yang baik hati. Menjadi anak cantik, jauh lebih menyenangkan,"katanya lagi.

"Tak ada gunanya menjadi anak cantik jika hatimu tak baik,"jawab cermin itu tenang.

Reina memang cantik. Rambutnya cokelat tua, matanya bersinar-sinar, dan kulitnya pun halus sekali. Sayangnya, ia egois. Ia tak bisa melihat makhluk lain senang.

Reina sering sengaja menginjak sarang semut di halaman rumahnya. Ia juga sering memetik bunga-bunga yang masih kuncup. Yang paling parah, Reina sering mengejek teman-temannya. Ada saja yang dijulukinya si gendut, si ceking, si hidung melon, atau si rambut sarang burung.

Kini, Reina tak punya teman sama sekali. Ia kesepian, tetapi masih tak sadar juga. Satu-satunya temannya adalah cermin di dinding kamarnya itu. Tetapi, akhir-akhir ini, cermin itu juga membuatnya marah.
Suatu pagi, lagi-lagi Reina bertanya, "Cermin, cermin di dinding, siapakah yang paling cantik di kota ini?"

Jawaban dari cermin tetap sama. "Kaulah Reina yang tercantik. Sayang, bukan kau yang memiliki hati terbaik."
Kali ini Reina benar-benar marah. "Mengapa kau selalu berkata begitu?" katanya.

"Reina sayang, lihatlah dirimu. Apakah kau punya sahabat? Itu semua karena tingkah lakumu. Coba kau sedikit bersikap manis pada teman-temanmu, juga pada makhluk lain. Aku yakin, sebenarnya kau tak suka hidup kesepian seperti ini," jawab cermin panjang lebar.

Reina semakin marah. Ia membanting cermin itu. PRAAANG! Cermin itu jatuh berkeping-keping. Reina lalu menyimpan serpihannya ke dalam kardus, dan menaruhnya di bawah tempat tidurnya.
Aku akan membuangmu jauh-jauh nanti," katanya kesal.

Kini Reina benar-benar tak punya teman. Hari-harinya bertambah sepi sejak cermin itu tak lagi ada di dinding kamarnya. Reina pun berusaha menghibur dirinya sendiri. Ia berjalan-jalan ke teras rumahnya.

"Aha... semut-semut ini membangun sarang lagi ya? He he... rasakan ini!" katanya sambil mengangkat kaki. Ia siap menginjak sarang semut itu ketika tiba-tiba ia teringat kata-kata si cermin.
"Aku harus bersikap manis? Ah, ini kan cuma semut?" pikirnya.

Reina menghela nafas. Ia akhirnya tak jadi menginjak sarang semut itu. Ia duduk dan memandangi semut-semut yang sedang mengumpulkan makanan.
"Hmmm.... mereka sungguh kompak. Kerja sama yang bagus, gumamnya.
Reina lalu melihat bunga-bunga di sekitarnya. Tangannya terulur hendak memetik kuncup bunga. Tetapi pandangannya lalu teralih pada bunga-bunga lain yang mekar.

"Indah sekali. Kenapa aku baru melihatnya ya?" Reina sadar, ia tak pernah melihat bunga bermekaran karena ia selalu memetiknya saat mereka masih kuncup!

Reina tak jadi memetik kuncup bunga. Ia mengambil gunting dan keranjang. Ia menggunting bunga-bunga yang mekar dan menaruhnya di keranjang.
"Aku akan merangkainya untuk ibu,"katanya senang.

Saat hendak masuk ke rumah, lewatlah Rosa, temannya yang bertubuh gemuk.
"Hai gen... "Reina tak meneruskan kata-katanya. "Hai Rosa, kau mau kemana? Temani aku merangkai bunga, yuk!" sapanya.
Rosa membelalakan matanya, seolah tak percaya.
"Ayo! Aku suka merangkai bunga,"jawab Rosa.
Siang itu, Reina dan Rosa sibuk merangkai bunga. Ibu Reina gembira saat menerima rangkaian bunga itu.

Setelah Rosa pulang, Reina kembali ke kamarnya. Ia pun kembali kesepian. Ia lalu teringat pada serpihan cermin yang belum dibuangnya. Diambilnya kardus tempat ia menyimpan serpihan cermin tadi. Reina berusaha merekatkan pecahan cermin itu. Beberapa jam kemudian, pekerjaan Reina pun selesai. Cermin itu kembali ia gantung di dinding, meskipun tak lagi sempurna.

"Cermin, cermin di dinding, maafkan aku karena telah membantingmu. Rupanya kau benar, sedikit bersikap manis telah membuat hatiku gembira. Hari ini aku belajar banyak hal. Aku baru tahu jika semut itu hewan yang kompak. Aku juga baru tahu kalau Rosa pandai merangkai bunga."

Cermin diam tak menjawab. Reina sedih. Ia tahu, cermin itu mungkin telah rusak. Cermin itu tak lagi bisa diajaknya bercakap. Reina bertekad, ia tak mau pengorbanan cermin itu sia-sia. Esok, ia akan belajar bersikap manis lagi terhadap semua teman dan makhluk hidup. Esok, dan esok, dan esok, dan selamanya, ia akan bersikap manis.


Lihat Dongeng Berikutnya


        Kembali ke Home

DONGENG CERMIN DI DINDING | DONGENG ANAK DUNIA

Dongeng Arbei Obat ditulis oleh Vanda P.

Dongeng arbei obatDongeng Arbei Obat - Oki dan Felip sering bermain di hutan. Suatu hari, mereka menemukan kebun arbei. Indah dan menggiurkan sekali. Buah-buahnya besar dan ranum. "Asyiiiik! Jangan bilang kurcaci lain! Kita saja yang menghabiskannya! usul Felip.

"Cepat petik! Keburu pemiliknya datang!" ujar Felip lagi. Kedua kurcaci itu cepat-cepat memetik semua arbei. Lalu dimasukkan ke daun besar yang dibentuk kerucut.

Kini mereka menikmati hasil curian mereka. "Hmmmm... manisnyaaa!" gumam Oki sambil terus mengunyah. "Belum pernah aku makan arbei semanis ini! ujar Felip.

Tiba-tiba, "Aduuuuh...duh..." Oki dan Felip mengaduh sakit perut.

Di sekujur tubuh mereka kini timbul bintik-bintik merah. Persis buah arbei. Oki dan Felip ketakutan. Untung ada Nirmala. Ia langsung membawa mereka ke rumah Pak Tobi.

Pak Tobi segera mengobati mereka. Namun ia marah, "Arbei-arbei itu, adalah arbei untuk ramuan obat-obatanku. Sekarang kalian harus menanam bibit arbei baru!"

Hmm, Oki dan Felip harus bekerja keras. Menanam bibit arbei obat satu per satu. Tetapi, mereka tak menggerutu. Sebab, Pak Tobi sudah menyembuhkan mereka!


Lihat Dongeng Berikutnya


        Kembali ke Home

Dongeng Arbei Obat | DONGENG ANAK DUNIA

Dongeng Bangsawan dan Tukang Kebunnya ditulis oleh BE. Priyanti

dongeng bangsawan dan tukang kebun
Dongeng Bangsawan dan Tukang Kebunnya - Tuan Brandon adalah bangsawan yang sangat kaya. Dia mempunyai seorang tukang kebun yang rajin, bernama Jack. Tukang kebun ini bertugas mengurus tanaman di kebunnya yang megah. Ia tinggal tak jauh dari rumah tuannnya.

Tuan Brandon sangat sombong. Ia sama sekali tidak menghargai Jack, meski Jack telah setia mengabdi bertahun-tahun padanya. Selama ini, ia hanya menganggap Jack sebagai pembantu miskin yang diupahnya setiap bulan.
Walau dipandang sebelah mata, Jack dan keluarganya tetap bahagia. Ia dan keluarganya bersyukur bisa bekerja di rumah besar itu.

Suatu malam, Tuan Brandon dan keluarganya mengadakan pesta. Jack dan istrinya menyiapkan banyak rangkaian bunga yang indah. Para tamu terpesona dengan rangkaian bunga itu. Mereka ingin bertemu dengan Jack, si tukang kebun. Tetapi Tuan Brandon berkata dengan kasar,

"Ah, tidak perlu. Jack hanyalah tukang kebun yang tua dan kotor. Kalau kalian ingin bertemu dengannya, itu sama saja dengan mengotori diri kalian yang sempurna sebagai seorang pahlawan."

Akhirnya tak seorang pun yang menanyakan Jack lagi.
Jack sangat sedih mendengarnya. Dia juga tak pernah berharap untuk bertemu dengan para tamu bangsawan. Dia hanya merasa tidak suka disebut orang yang kotor.

Begitulah setiap saat. Tuan Brandon, si bangsawan kaya itu, selalu merendahkan tukang kebunnya. Walaupun begitu, kehadiran Jack selalu diharapkannya untuk mengurus halaman rumahnya yang sangat luas itu.
Malam itu langit sangat gelap dan dingin. Angin bertiup kencang. Tuan Brandon merasa tubuhnya tidak enak dan kedinginan. Maka dia menyalakan perapian dan duduk disana untuk menghangatkan badan.

Kini tubuhnya terasa panas dan berkeringat. Tuan Brandon membuka salah satu jendela besar di ruangan itu. Angin mengalir masuk. Tuan Brandon terkantuk-kantuk di kursinya yang empuk.

Karena angin bertiup cukup kencang, lidah-lidah api pada perapian mulai menari-nari. Lidah api itu meliuk ke kanan dan kiri. Mencoba menyambar apa saja yang ada di sekitarnya.

Benar saja, lidah api menyambar sebuah buku. Buku itu mulai terbakar. Apinya juga menyambar barang-barang lain di dekatnya. Bahkan lampu minyak di sebelahnya ikut terbakar. Api mulai membesar. Ruangan itu kini dipenuhi asap dan nyala api.

Tuan Brandon terbatuk-batuk bangun. Dia tidak bisa melihat apa-apa. Matanya perih terkena asap. Nafasnya sesak. Dia berteriak-teriak minta tolong.
Sebuah tangan keriput terulur menariknya. Sosok itu membantunya keluar dari ruangan itu dan merebahkannya di rerumputan halaman rumah. Dengan sigap sosok itu berlari masuk kembali sambil membawa ember berisi air.

Tuan Brandon menangis melihat api membakar rumahnya. Angin yang bertiup kencang semakin membantu api itu menghabiskan bangunan rumah. Karena terlalu kaget, Tuan Brandon pun pingsan. Keesokan paginya, Tuan Brandon terbangun. Dilihatnya rumahnya yang besar tinggal puing-puing saja. Dia sangat sedih. Hartanya habis.

Tiba-tiba, sekumpulan orang mendatanginya. 
Salah satu dari mereka bertanya kepadanya, "Tuan mari ikut ke pemakaman. Tuan harus mengantarkan orang yang sangat berjasa kepada Tuan, menuju tempat peristirahatan terakhirnya."

Tuan Brandon tertegun. "Siapa orang yang sangat berjasa kepadaku itu?"
"Dia Jack, si tukang kebun, Tuan. Dia meninggal karena berusaha menyelamatkan Tuan dan rumah besar Tuan," jelas orang yang lain.
Tuan Brandon menundukkan kepalanya. Ia menangis. Ia tak menyangka, Jack yang selama ini tak dihargainya, malah menyelamatkan nyawanya. Tapi apalah artinya penyesalan yang datang terlambat.


Lihat Dongeng Berikutnya


        Kembali ke Home

DONGENG BANGSAWAN DAN TUKANG KEBUNNYA | DONGENG ANAK DUNIA

- Copyright © CERITA DONGENG - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -