Archive for 06/02/15
Dongeng Si Hitam dan Putih ditulis oleh Angela Oscario
![]() |
| Dongeng Si Hitam dan Putih |
Di negeri kambing, kambing-kambing putih hidup dengan damai. Sayangnya kambing putih hanya mau bergaul dengan sesama kambing putih. Di negeri itu, hiduplah satu keluarga kambing hitam. Bagi kambing-kambing putih, keluarga kambing hitam adalah pembawa sial. Menurut mereka, dimana ada kambing hitam, di situ akan terjadi masalah.
Keluarga kambing hitam memiliki seekor anak kambing hitam. Namanya si kecil Hitam. Setiap sore, si kecil hitam hanya bisa memandangi anak-anak kambing putih yang asyik bermain. Ia tidak diijinkan ikut bermain bersama.
Si kecil hitam menjadi sedih. "Mengapa buluku berwarna hitam?"keluhnya.
Si kecil hitam lalu berniat mengubah bulunya menjadi putih. Ia menceburkan dirinya ke dalam ember cat putih. Dalam sekejap, bulu-bulunya pun berwarna putih.
"Mbeeeekkkk!" soraknya kegirangan. Ia menghampiri anak-anak kambing putih dan bermain bersama mereka. Ia merasa sangat senang.
Saat sedang bermain, tiba-tiba langit menjadi gelap. Hujan deras pun turun. Akibatnya, cat putih di tubuh si kecil hitam menjadi luntur. Kambing-kambing putih berteriak kesal melihatnya.
"Pantas hujan turun! Pasti gara-gara kambing hitam bermain bersama kita. Dia memang pembawa masalah!"
Si kecil hitam sedih sekali. Ia berlari pulang dan bertanya pada ibunya.
"Apa betul, kambing hitam memang pembawa masalah?"
"Tentu saja tidak, Nak. Kambing-kambing putih menjauhi kita hanya karena kita berbeda. Tapi jangan khawatir. Ibu yakin, suatu saat mereka akan menyadari kalau pendapat itu salah..."
Suatu hari, si kecil hitam menonton anak-anak kambing putih yang sedang bermain. Tiba-tiba dia melihat seekor serigala mendekati kambing-kambing putih. Para kambing putih lari kocar-kacir. Seekor kambing putih tertangkap.
Tanpa rasa takut, si kecil hitam berlari mendekat. Ia mengambil buah-buah busuk yang berserakan di tanah dan melempari si serigala.
"Auuuu!" seru serigala sambil melindungi tubuhnya.
Si kecil hitam segera bersembunyi di antara semak-semak. Bulunya yang berwarna hitam membuat ia mudah bersembunyi. Serigala tidak melihatnya. Si kecil hitam terus melempari si serigala dengan buah busuk, lalu buru-buru bersembunyi lagi. Serigala akhirnya melarikan diri. Anak kambing putih tadi selamat.
Para kambing putih sangat berterima kasih pada si kecil hitam. Mereka mengagumi keberaniannya. Sejak saat itu, kambing putih dan kambing hitam hidup dengan damai tanpa membeda-bedakan warna bulu.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Si Hitam dan Putih | DONGENG ANAK DUNIA
"Potty! Potty!" Ekity beretriak-teriak ketika memasuki lorong. Lorong ini menuju rumah semut madu. Tidak seperti semut-semut lain, para semut madu beristirahat dengan cara bergantung di langit-langit ruangan.
Potty melirik ke arah Ekity di bawah. "Kau bawa madu lagi?" tanya Potty tanpa bergerak. Tubuhnya membengkak seperti buah blueberry. Perutnya berisi madu yang sangat banyak. Potty bergantung bersama semut-semut lain. Jika dilihat, semut berperut gendut dalam jumlah banyak itu mirip anggur.
"Aku belum dapat juga,"Ekity menunduk dengan sedih. Ini hari ketiga ia pulang tanpa membawa hasil. Ekity adalah semut pekerja pencari madu dari kutu pemakan getah tumbuhan. Madu itu harus ia bawa pulang ke sarang, lalu dituangkan ke mulut semut madu. Perut semut madu ini lama kelamaan akan membesar serupa gelembung. Madu ini adalah cadangan makanan semua semut saat musim dingin dan musim kemarau.
"Kamu harus berusaha lebih keras, Ekity. Sebentar lagi musim dingin. Aku khawatir cadangan makanan kita tidak cukup banyak,"kata Potty.
"Lihat, perutku belum sebesar perut teman-teman,"Potty menunjuk teman-teman sesama semut madu lainnya.
Ekity melihatnya. Perut Potty memang kalah besar.
"Masalahnya, Kutumi tidak ada,"kata Ekity lesu.
"Cari kutu lainnya! desak Potty.
"Aku tidak kenal, aku takut!" Ekity berkata putus asa.
"Kalau kau tidak kenal, kamu harus berkenalan! Cari teman kutu lain sebanyak-banyaknya. Kau tidak bisa hanya mengandalkan Kutumi,"kata Potty gemas.
Potty tahu, Ekity pemalu. Tetapi sifat pemalunya kadang-kadang keterlaluan. Potty khawatir, sifat pemalu itu akan menyulitkan Ekity. Ekity kan semut pekerja pencari madu. Seharusnya ia mengenal banyak kutu pemakan getah yang menghasilkan madu.
"Bagaimana caranya berkenalan?"tanya Ekity.
"Caranya? DATANGI DAN KENALKAN DIRIMU! Itu saja!" suara Potty kini benar-benar melengking. Ekity terlonjak, lalu berlari keluar. Duh, Potty galak amat, sih! Tidak perlu berteriak-teriak begitu.
Ekity kini bingung. Ia tak tahu bagaimana cara memulai perkenalan. Dulu, Kutumi yang lebih dulu memperkenalkan dirinya. Kutumi lalu memperkenalkannya pada kutu-kutu lain. Tetapi, Ekity cepat lupa nama-nama mereka. Selalu saja ia salah panggil. Kutusi dipanggil Kutuma. Padahal mereka jelas berbeda. Kutusi berbadan kecil, Kutuma gemuk.
Akhirnya daripada salah, Ekity memilih diam saja saat bertemu. Karena diam itu, beberapa kutu menganggap Ekity sombong.
Ekity berjalan menyusuri batang pohon yang besar.
"Hai!" Seekor kutu menyapa. Ekity tersenyum. Kutumi pernah mengenalkannya dengan kutu ini. Tetapi, siapa namanya ya?
"Hai juga,"Ekity berhenti.
"Kau pasti Epitti!" kata kutu itu. Ekitty menggeleng.
"Oh Emitty ya?"tebaknya lagi. Ekity kembali menggeleng.
"Ebity? Editty?" tanya kutu itu menebak-nebak.
Ekity menggeleng terus dengan perasaan geli.
Sekarang ia merasa punya teman. Ada kutu yang juga pelupa seperti dirinya. Horeeee!!!
"Ah, sudahlah. Siapa pun kamu, tidak penting. Ayo, ke kebun!" kutu itu mengajaknya dengan riang.
"Aku Ekitty. Kamu siapa?"Ekitty memberanikan diri bertanya.
"Aku Kutubi,"sahut kutu itu.
Mereka berjalan beriringan menuju kebun. Di kebun, sudah ramai dengan para kutu dan semut pekerja. Perasaan Ekitty jadi ciut. Sebagian besar kutu itu sama sekali tidak dikenalnya.
"Itu siapa?" Ekity menunjuk satu kutu. Kutubu diam sejenak.
"Mungkin Kutusa. Atau Kutuki? Ah, bukan, itu Kutudi.... Aduh, aku lupa!" Kutubi menepuk kepala sambil tertawa.
"Kalau itu siapa?" Sekarang Kutubi menunjuk satu semut pekerja.
"Sepertinya Emitty,"Ekity berkata ragu.
"Yakin?"Kutubi bertanya.
"Entahlah.... Aku tak yakin!"jawab Ekitty. Kutubi tertawa terbahak-bahak. Ekity tersipu-sipu malu.
"Kita ternyata sama! Sama-sama pelupa!"
"Kau tidak malu?" tanya Ekity.
"Malu kenapa? karena tidak hafal semuanya?"Kutubi balik bertanya. Ekitty mengangguk.
"Yaaa... Kadang-kadang malu. Aku berusaha mengingatnya dengan mencatat.
Kalau masih lupa juga, bagaimana lagi? Eh, walau pelupa, temanku banyak, lo!"Kutubi berkata panjang lebar.
Kalau masih lupa juga, bagaimana lagi? Eh, walau pelupa, temanku banyak, lo!"Kutubi berkata panjang lebar.
Ekity jadi bersemangat. Ia memang pelupa, sama dengan Kutubi. Nah, kalau Kutubi bisa punya teman banyak, ia juga pasti bisa! Ekity akan belajar bagaimana mencari teman dari Kutubi.
Hari ini dan seterusnya, Ekity bertekad akan mendapatkan banyak madu dari para kutu. Madu itu akan dibawanya pulang. Potty pasti tidak marah lagi.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Indonesia Ekity Tidak Malu Lagi | DONGENG ANAK DUNIA
| Si Kancil dan Buaya |
Suatu hari Si Kancil, binatang yang katanya cerdik itu, sedang berjalan-jalan di pinggir hutan. Dia hanya ingin mencari udara segar dan melihat matahari yang cerah bersinar. Di dalam hutan terlalu gelap karena pohon-pohon sangat lebat.
Si Kancil ingin berjemur di bawah terik matahari. Di sana ada sungai besar yang airnya dalam sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil merasa ada yang berbunyi di perutnya.
Si Kancil ingin berjemur di bawah terik matahari. Di sana ada sungai besar yang airnya dalam sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil merasa ada yang berbunyi di perutnya.
kruuuk…kruuuuuk…kruuuuuk.
Wah, rupanya Si Kancil sudah lapar. Si Kancil membayangkan betapa nikmatnya kalau ada makanan kesukaannya yaitu ketimun. Namun kebun ketimun ada di seberang sungai, bagaimana cara menyeberanginya ya? Si Kancil berfikir sejenak.
Tiba-tiba Si Kancil melompat kegirangan, dan berteriak: “Buaya….buaya…. ayo keluaaaaar….. Aku punya makanan untukmu…!!” seperti itulah si Kancil berteriak kepada buaya-buaya yang banyak tinggal di sungai yang dalam itu.
Tiba-tiba Si Kancil melompat kegirangan, dan berteriak: “Buaya….buaya…. ayo keluaaaaar….. Aku punya makanan untukmu…!!” seperti itulah si Kancil berteriak kepada buaya-buaya yang banyak tinggal di sungai yang dalam itu.
Sekali lagi Kancil berteriak, “Buaya…buaya… ayo keluar… mau daging segar tidaaaak?”
| Si Kancil Bicara kepada Buaya |
Tak lama kemudian, seekor buaya muncul dari dalam air, “Bruaaar… siapa yang teriak siang-siang begini.. mengganggu tidurku saja.” “Hei Kancil, diam kau.. kalau tidak aku makan nanti kamu.” Kata buaya kedua yang muncul bersamaan.
“Wah…. bagus kalian mau keluar, mana buaya yang lain?” kata si Kancil kemudian. “Kalau cuma dua ekor masih sisa banyak nanti makanannya ini. Ayo keluar semuaaa…!” si Kancil berteriak lagi.
“Ada apa Kancil sebenarnya, ayo cepat katakan,” kata buaya.
“Begini buaya, maaf kalau aku mengganggu tidurmu, tapi aku akan bagi-bagi daging segar buat buaya-buaya di sungai ini,” makanya kalian harus keluar semua untuk menghabiskan daging-daging segar ini.
Mendengar bahwa mereka akan dibagikan daging segar, buaya-buaya itu segera memanggil teman-temannya untuk keluar semua.
“Hei, teman-teman semua, ada makanan gratis nih! Ayo kita keluaaaar….!” pemimpin dari buaya itu berteriak memberikan komando. Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya dari dalam air.
“Hei, teman-teman semua, ada makanan gratis nih! Ayo kita keluaaaar….!” pemimpin dari buaya itu berteriak memberikan komando. Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya dari dalam air.
“Nah, sekarang aku harus menghitung dulu ada berapa buaya yang datang, ayo kalian para buaya segera baris berjajar hingga ke tepi sungai di sebelah sana,” “Nanti aku akan menghitung satu persatu.”
Lalu tanpa berpikir panjang, buaya-buaya itu segera mengambil posisi, berbaris berjajar dari tepi sungai satu ke tepi sungai lainnya, sehingga membentuk seperti jembatan.
“Oke, sekarang aku akan mulai menghitung,” kata si Kancil yang segera melompat ke punggung buaya pertama, sambil berteriak,
“Satuuu….. duaaaa….. tigaaaa…..”
begitu seterusnya sambil terus meloncat dari punggung buaya yang satu ke buaya lainnya. Hingga akhirnya si Kancil sampai di seberang sungai. Dan di dalam Hatinya tertawa, “Mudah sekali ternyata.”
“Satuuu….. duaaaa….. tigaaaa…..”
begitu seterusnya sambil terus meloncat dari punggung buaya yang satu ke buaya lainnya. Hingga akhirnya si Kancil sampai di seberang sungai. Dan di dalam Hatinya tertawa, “Mudah sekali ternyata.”
Begitu sampai di seberang sungai, Kancil berkata pada buaya, “Hai buaya-buaya bodoh, sebetulnya tidak ada daging segar yang akan aku bagikan. Tidakkah kau lihat bahwa aku tidak membawa sepotong daging pun?” “Sebenarnya aku hanya ingin menyeberangi sungai ini, dan aku butuh jembatan untuk lewat. Kalau begitu saya ucapkan terima kasih pada kalian, dan mohon maaf kalau aku mengerjai kalian,” kata si Kancil.
| Para buaya kesal karena tipuan si Kancil |
“Haaaa!….huaaaaaahh… sialan… Kancil nakal, ternyata kita cuma dibohongi. Awas kau kancil ya.. kalau ketemu lagi saya makan kamu,” kata buaya-buaya itu geram.
Si Kancil segera berlari menghilang di balik pepohonan dan menuju kebun Pak Tani untuk mencari ketimun makanan kesukaannya.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
