Archive for 06/29/15

dongeng si dada emas

Dongeng Si Dada EmasDahulu kala ada seorang raja yang hidup berdampingan dengan permaisurinya. Kehidupan sudah lama, tetapi juga masih belum hamil. Raja merasa cemas dan sedih, karena tidak punya anak, sehingga siapa yang akan meneruskan tahta kerajaannya.

Pada suatu kesempatan raja punya gagasan ingin mengumpulkan semua pengawalnya. Setelah pengawalnya berkumpul sang raja berkata,” Pada malam ini semua pengawalku pergi ke kolong rumah penduduk dan dengarkan kalau ada di antara penduduk itu ada berkata,” Seumpama saya menjadi istri raja. saya secepatnya hamil”.

Mendengar perintah raja itu semua pengawalnya melaksanakan dengan giat-giat. Semuanya menyebar menuju ke kolong rumah penduduk. Tiba-tiba turunlah hujan deras, kemudian salah satu diantara sekian banyak pengawal raja itu ada yang berteduh di kolong rumah penduduk. Terdengarlah dalam rumah si gadis miskin itu berkata,” Seumpama saya menjadi istri raja, maka saya akan melahirkan tiga anak yang berdada emas, seorang anak perempuan dan duanya laki-laki. Perkataan si gadis miskin itu benar-benar didengar pengawal raja.

Setelah hujan reda pengawal raja bergegas pulang menuju ke istana sambil bersenang hati, karena tercapai apa yang diperintahkan raja kepadanya. Setiba di istana pengawal itu langsung melaporkankepada sang Raja.

Atas laporan dari pengawalnya, kemudian si gadis miskin disuruh datang ke istana untuk dimintai keterangan. Raja bersama permaisurinya tercengang dikala mendengar keterangan dari gadis miskin itu. Akhirnya gadis miskin itu dinikah oleh raja sebagai istri kedua, karena sang Raja benar-benar ingin mendapatkan keturunan.

Tidak lama kemudian gadis miskin yang telah dikawin raja itu akhirnya hamil dan dia mengidam daging rusa. Sekalipun gadis miskin yang dinikahi, tetapi sang Raja begitu kasih sayang, sehingga apa yang diminta selalu dituruti. Bahkan untuk mencari daging rusa sang Raja terjun sendiri berburu ke hutan. Melihat sayangnya yang luar biasa kepada istrinya kedua. Kini permaisurinya mulai cemburu.

Pada saat raja berburu tiba-tiba istrinya yang miskin melahirkan tiga anak yang berdada emas, satu perempuan dan dua laki-laki, ternyata benar apa yang pernah dikatakan oleh gadis miskin tersebut.

Pada saat melahirkan si miskin mata dan telinga ditutup, hal ini merupakan aturan dari kerajaan. Dengan rasa kesedihan si miskin tak bisa melihat, serta mendengarkan tangis dari anaknya, dan juga tidak bisa mengenalinya.

Saat itu bertepatan juga dengan anjing beranak tiga ekor, satu betina dan dua jantan. Ketiga anak anjing itu dimuat di baki lalu dibawa ke istana perlu ditukarkan dengan ketiga anak miskin tersebut. Sementara ketiga anak si miskin itu dibawa ke tempat yang jauh dari istana. Ibu si miskin yang baru saja melahirkan tadi ditaruh di kolong istana tepatnya di bawah jamban dalam keadaan terikat.

Kini tibalah sang Raja dari hutan sambil membawa daging rusa. Beliau dipersilahkan permaisurinya untuk melihat ketiga ekor anjing yang baru saja dilahirkan dari si miskin itu. Saat melihat ketiga anjing itu raja marah-marah, dan menganggap si miskin adalah pembohong.

Lambat laun ketiga anak itu besar dan menginjak dewasa. Mereka dibesarkan oleh petani, dan selama itu mereka berada di kebun. Mereka tidak tahu, bahwa dirinya anak raja, sementara ibunya dalam keadaan diikat. Pada lain kesempatan sang Raja mengadakan pesta yang banyak sekali hiburannya. Diantara hiburannya adalah penyambungan ayam. Mendengar kabar ini, Inang pengasuh yang sangat mencintai anak-anak berdada emas itu menyuruh mereka agar ikut serta menyambung ayam.

Nenek Inang Pengasuh berkata, “Hai cucuku, kesanalah kamu ikut menyambung ayam?” “Ayam apa yang harus saya bawa, sementara tidak punya ayam,” tanya sang cucu. Nenek berkata lagi, ” Nanti kau saya buatkan ayam agar ikut menyambung ayam”.

Kemudian dibuatkan seekor ayam dengan menyulap seekor kucing, lalu menjadi ayam jantan. Setelah mendapat ayam, lalu si anak-anak berdada emas cepet-cepet menuju istana.

Setiba di istana, Raja berkata, “Bagaimana anak-anak apakah kamu benar-benar punya minat untuk menyambung ayam?” Si dada emas menjawab: kalau sudah datang kemari dan ayam sudah dibawa tentu saja sudah siap. Pertandingan dimulai ayam milik sang raja dengan ayam milik sang anak dada emas mulai tertarung. Ayam sang raja terpental oleh ayam sang anak dada emas, akhirnya dia pulang membawa sekantong emas berkat ayam yang dimilikinya tadi.

Permaisuri telah dihantui dengan rasa khawatir dikala melihat anak berdada emas itu, sementara Raja merasa penasaran atas kekalahannya itu. Sang Raja berkata, “Besok kita mengadakan lagi menyambung ayam, oleh karena itu datanglah anak-anak!”

Setiba di rumah mereka berdada emas itu menyampaikan tentang permainannya kepada nenek yang mengasuhnya. Kemudian nenek bertanya, “Apakah anak-anak mau menyambung ayam lagi? Ya nek aku semua senang jika menang karena mendapatkan emas.

Esok harinya si nenek membuatkan ayam siluman lagi, sambil mengatakan, bila nantinya kamu menang, maka janganlah minta emas, tetapi mintalah wanita yang sedang diikat di bawah kolong jamban, sementara dia sudah berlumut, karena sudah lama bertempat di bawah jamban tersebut, dan itulah benar-benar ibumu.

Setelah si nenek tadi mengatakan hal yang mengagetkan tadi, maka mereka berdada emas berupaya sekali untuk membebaskan ibunya yang sedang diikat di bawah kolong jamban.

Mereka berangkat dengan penuh semangat sampai di istana langsung diadakan sambun ayam. Dalam jangka waktu relatif singkat, ayam raja berlumuran darah, hingga mati. Melihat ayamnya kalah itu sang Raja merasa malu. Sang Raja mengajak ketiga anak itu untuk diberi hadiah.

Setiba di istana mereka berdada emas mengatakan, “Kemenangan kali ini kami tidak mengharapkan uang emas, tetapi minta dibebaskannya wanita yang diikat di kolong bawah jamban itu.

Raja berkata, “Kalian punya maksud apa dengan orang semacam itu? Dia benar-benar pembohong! Si Dada emas berkata,” Wanita itu adalah ibu kami. Raja bertambah heran dan tercengang mendengar ucapan anak tersebut.

Tidak lama kemudian muncullah Inang dan burung nuri sahabat anak-anak berdada emas itu. Kini burung nuri dan yang hadir saat itu sedang bercerita tentang beberapa tahun yang lalu tentang si miskin melahirkan di istana ketepatan sang Raja berburu ke hutan.

Burung Nuri terus bercerita tentang si miskin lahir, tetapi permaisuri mengatakan kepadanya, hai burung nuri, berhentilah kamu cerita! Permaisuri merasa takut kejahatannya terbongkar. Akan tetapi sang Raja minta kepada burung nuri agar meneruskan ceritanya, karena tertarik sekali.

Setelah burung nuri bercerita panjang lebar, maka tiba-tiba sang Raja menangis, karena selama ini tertipu permaisurinya, karena selama ini membiarkan selirnya terlantar di bawah jamban. Setelah itu ibu terlantar langsung dibebaskan serta dimandikan dengan bersih. Dia segera menemui anak-anaknya dan saling berpelukan, karena selama ini tidak pernah menjumpai dan baru kali ini mereka sama-sama tahu. Begitu juga sang Raja yang selama ini bersalah, dia juga ikut memeluk selirnya dan anak-anaknya.

Ternyata yang bohong adalah permaisuriku, untuk itu dia segera memerintah kepada pengawalnya untuk menangkapnya lalu diikat dan ditaruh dibawah jamban, sebagai ganti selirku. Biar dia merasakan akibat perlakuan jahat itu.

Dongeng Si Dada Emas | DONGENG ANAK DUNIA

dongeng berlian dan sekantong gandum

Dongeng Berlian dan Sekantong Gandum - Syahdan, satu waktu di suatu negeri, hiduplah seorang saudagar yang kaya raya, bernama Pak Ulung. Sesuai dengan namanya, Pak Ulung adalah saudagar yang memiliki sifat ulung dan ulet dalam bekerja. Perniagaannya sampai ke berbagai negeri yang sangat jauh. Berbagai macam barang diniagakan. Ketika Pak Ulung pulang, ia membawa keuntungan beserta oleh-oleh berbagai rupa.

Pak Ulung telah lama ditinggalkan oleh istrinya, Bu Ulung, menghadap Sang Pencipta. Pak Ulung memiliki dua orang anak lelaki, bernama Si Tulus dan Si Irus. Si Tulus dan Si Irus sudah remaja. Mereka hidup dalam gelimang kecukupan harta. Rumahnya besar, tanahnya luas, dan pembantunya banyak.

Suatu hari, Pak Ulung jatuh sakit. Demi kesembuhan, berbagai tabib didatangi untuk menyembuhkan Pak Ulung. Namun sakit Pak Ulung tak kunjung sembuh, bahkan semakin bertambah parah. Dan perniagaan Pak Ulung pun dipercayakan pada pembantu-pembantu Pak Ulung.

Sayang sekali, pembantu-pembantu Pak Ulung banyak yang tidak jujur. Perniagaan sering mengalami kerugian. Dan harta pun terjual satu demi satu, hingga tersisa sedikit saja. Karena sakit yang tak kunjung sembuh, Pak Ulung merasa hidupnya tak lama lagi. Maka dipanggilah kedua anaknya, Si Tulus dan Si Irus ke tepi ranjangnya.

Anakku Tulus dan Irus, hidup ayah tidak lama lagi, kata Pak Ulung pelan.
Ayah jangan berkata begitu, Ayah tidak boleh berputus asa, rintih sedih Si Tulus.

Jika ayah pergi, siapa yang akan menghidupiku? rengek Si Irus.

Pak Ulung melanjutkan kata-katanya, kalian adalah lelaki, kelak harus hidup mandiri. Ayah selama ini telah memberi kalian harta dan ilmu yang berkecukupan. 

Namun kini yang tersisa, cuma rumah yang sederhana ini, sebidang tanah dengan sekantong gandum, dan sebutir besar berlian. Kalian tinggalah di rumah ini sampai mandiri. Sisanya pilihlah untuk bekal hidup kalian.

Dan kesokan harinya, Pak Ulung pun menghadap Sang Pencipta. Sedih betul Si Tulus dan Si Irus. Namun mereka harus melanjutkan kehidupan. Maka teringatlah keduanya akan wasiat sang ayah. Sebidang tanah beserta sekantong bibit gandum, dan sebutir berlian besar.

Aku memilih sebutir berlian. Bagian Kak Tulus saja sebidang tanah dan sekantong gandum itu, ucap Si Irus.

Si Tulus bimbang. Nilai sebidang tanah dan sekantong bibit gandum sangatlah sedikit dibanding sebutir besar berlian itu, pikir Si Tulus. 

Namun karena sayangnya Si Tulus pada Si Irus, maka Si Tulus setuju.
Baiklah, Semoga berguna bagimu, dik Irus, jawab Si Tulus.

Maka keesokan harinya pergilah Si Irus ke Kota Raja, untuk menjual berlian. Lupalah Si Irus akan nasihat sang ayah. Tidak mencari kerja, dihabiskannya sedikit demi sedikit hartanya. Sementara sang kakak, Si Tulus, cemas menunggunya di rumah.

Si Tulus, dengan sekantong bibit gandum dari sang ayah, mulailah berladang di sebidang tanah ayahnya. Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun berganti. 

Si Tulus terus bekerja, senantiasa berdoa, serta tak lupa berderma. Berawal dari petani sederhana hingga menjadi tuan tanah, dan pula belajar berniaga seperti ayahnya dulu. Sedangkan Si Irus hidup terlunta-lunta di Kota Raja.

Dan pada satu ketika, Si Tulus pergi ke Kota Raja. Hingga tidak sengaja bertemulah Si Tulus dengan seorang pemikul barang yang terlihat letih dan tua, dengan topi lebar menutupi kepalanya.

Boleh saya bawa barangnya Tuan, Cukuplah sekedar makan buat saya, pinta lirih sang pemikul.

Hati Si Tulus berdesir. Sepertinya tidak asing suara sang pemikul. Si Tulus menatap lebih dekat dan mengangkat topinya. Dan ternyata pemikul tersebut adalah Si Irus! Dipeluknya tubuh lusuh sang adik. Dan Si Irus pun juga terperanjat, menyadari sang kakak.

Pulanglah bersamaku, ucap penuh haru Si Tulus.
Tidak Kak Tulus, aku malu menjadi beban.
Akan kuajari engkau bekerja, selama ada kemauan!


Dan Si Irus pun cuma bisa tertunduk malu. Namun Si Tulus tetap menggandeng Si Irus pulang.

Dongeng Berlian dan Sekantong Gandum | DONGENG ANAK DUNIA

- Copyright © CERITA DONGENG - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -