Archive for 06/15/15
Dongeng kancil dan Tikus - Di hutan hiduplah dua ekor kancil. Mereka bernama Kanca dan Manggut. Kedua ekor kancil itu bersaudara. Manggut adalah kakak dari Kanca. Sebaliknya, Kanca adalah adik dari Manggut. Walaupun mereka bersaudara, tetapi sifat mereka sangatlah berbeda. Kanca rajin dan baik hati. Sedangkan Manggut pemalas dan suka menjahili teman-temannya.
Pada suatu hari Manggut kelaparan. Tetapi Manggut malas mencari makan. Akhirnya Manggut mencuri makanan Kanca. Waktu Kanca menanyai kepada Manggut di mana makanannya, Manggut menjawab dicuri tikus.
"Ah, mana mungkin dimakan tikus!" kata Kanca.
"Iya betul kok! Masa sama kakaknya tidak percaya!" jawab Manggut berbohong.
Mulanya Kanca tidak percaya dengan omongan Manggut. Tetapi setelah Manggut mengatakannya berkali-kali akhirnya Kanca percaya juga. Kanca memanggil tikus ke rumahnya.
"Tikus, apakah kamu mencuri makananku?" tanya Kanca pada tikus.
"Ha? Mencuri? Berpikir saja aku belum pernah!" jawab tikus.
"Ah, si tikus! Kamu ini membela diri saja! Sudah, Kanca! Dia pasti berbohong," kata Manggut.
"Ya, sudahlah! Tikus, sebagai gantinya ambilkan makanan di seberang sungai sana . Tadi aku juga mengambil makanan dari sana !" kata Kanca mengakhiri percakapan.
Tikus berjalan ke tepi sungai. Ia menaiki perahu kecil untuk menuju seberang sungai. Sebenarnya tikus tahu kalau Manggut yang mencuri makanan.
Sementara itu, di bagian sungai yang lain, Manggut cepat-cepat menyeberangi sungai. Ia hendak memasang perangkap tikus agar tikus terperangkap.
Ketika tikus hampir mendekati seberang sungai, tikus melihat perangkap. Tikus yakin kalau perangkap itu dipasang oleh Manggut. Tiba-tiba tikus mendapat ide. Tikus berpura-pura tenggelam dalam sungai.
"Aaa...Manggut, tolong aku...!" teriak tikus.
Mendengar itu Manggut segera menolong tikus. Tikus meminta Manggut mengantarkannya ke seberang sungai. Manggut tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengantarkan tikus ke seberang sungai.
Sesampai di seberang sungai tikus meminta Manggut menemani tikus mengambil makanan. Karena Manggut tidak hati-hati, kakinya terperangkap dalam perangkap tikus. Manggut menyesali perbuatan buruknya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
DONGENG KANCIL DAN TIKUS | DONGENG ANAK DUNIA
Dongeng si Kancil dan Siput - Suatu hari angin berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga dengan si kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya si kancil berjalan-jalan di hutan sambil membusungkan dadanya.
Sambil berjalan si kancil berkata, "Siapa yang tak kenal kancil. Si pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku."
Ketika sampai di sungai, si kancil segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat si kancil dapat berkaca. Si kancil berkata-kata sendirian.
"Buaya, gajah, harimau semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya."
Si kancil tidak tahu kalau ia daritadi sedang diperhatikan oleh seekor siput yang sedang duduk di bongkahan batu yang besar.
Si siput berkata, "Hei kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira?"
Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya si kancil menemukan letak si siput.
"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya? Siput yang kecil dan imut-imut. Eh bukan! Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran ayam," ujar si kancil.
Siput terkejut mendengar ucapan si kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel.
Lalu siput pun berkata, "hai kancil! kamu memang cerdik dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat."
Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan. Setelah si kancil pergi, siput segera memanggil dan mengumpulkan teman-temannya.
Si siput meminta tolong teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya harus berada di jalur lomba.
"Jangan lupa, kalian bersembunyi di balik bongkahan batu, dan salah satu harus segera muncul jika si kancil memanggil, dengan begitu kita selalu berada di depan si kancil," kata siput.
Hari yang dinanti tiba. Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai.
Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang siput segera menyelam ke dalam air.
Setelah beberapa langkah, si kancil memanggil siput. Tiba-tiba siput muncul di depan kancil sambil berseru, "hai kancil! aku sudah sampai sini."
Si kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si siput lagi. Ternyata siput juga sudah berada di depannya.
Akhirnya si kancil berlari tetapi ia panggil si siput, ia selalu muncul di depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.
Ketika hampir finish, ia memanggil siput, tetapi tidak ada jawaban. Si kancil berpikir siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.
Si kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis kancil berkata," kancil memang tiada duanya."
Si kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara siput yang sudah duduk di atas batu besar.
"Oh kasihan sekali kau kancil. Kelihatannya sangat lelah, capai ya berlari?" ejek siput.
Tidak mungkin! Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang," seru si kancil.
"Sudahlah akui saja kekalahanmu," ujar siput.
Si kancil masih heran dan tak percaya kalau ia dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Si kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya.
"Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu. Semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka," ujar siput.
Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggalah si kancil dengan rasa menyesal dan malu.
DONGENG si KANCIL DAN SIPUT | DONGENG ANAK DUNIA
oleh Vanda P.
Dongeng Serangan Manusia Ranting - Hari ini udara sangat hangat. Bunga-bunga matahari bermekaran indah di padang bunga matahari. Peri-peri bunga asyik bercakap di atas kuntum bunga. "Teman-teman, kudengar manusia ranting sedang ada di hutan kita. Kita harus hati-hati," kata peri kuning.
Sruuuut!! Tiba-tiba tangkai bunga yang sedang peri-peri itu duduki, lenyap masuk ke tanah. "Adooooow......" teriak peri-peri yang terjatuh ke tanah.
Peri Popi kebetulan lewat. Ia heran melihat bunga-bunga matahari yang tiba-tiba lenyap. Ia terbang menemui Nirmala. "Ada kejadian aneh di padang bunga matahari," ceritanya.
Sementara itu, manusia-manusia ranting keluar dari dalam tanah. Mereka mengejar peri-peri bunga. "Toloooooong.... tolooooooong...." peri-peri bunga terbang ketakutan.
Untunglah Nirmala datang. Ia segera menyulap, "Sim salabim!" Seketika manusia-manusia ranting itu terdiam. Mereka tak bisa bergerak lagi.
Di tubuh mereka, lalu keluar bunga-bunga putih. "Wah manusia-manusia ranting ini malah membuat padang bunga menjadi indah," kata Oki. Ia lalu meniru gerakan salah satu manusia ranting. "Hahhahaha.... Oki lucu,"tawa peri-peri bunga. "Terimakasih, Nirmala sudah menyelamatkan kami," kata peri kuning lega.
DONGENG SERANGAN MANUSIA RANTING | DONGENG ANAK DUNIA
oleh Maria Wiedyaningsih
Dongeng Empat Penari - Tante Calya menyisir rambut dengan tangan, merenung. Uh, sepertinya tante Calya tidak peduli pada Li-el. Tetapi lama-lama Li-el mengerti. Tante Calya sedang sangat sibuk berpikir.
"Aduh!" seru tante Calya, terdengar kesakitan.
Li-el mendongkak kaget. Hampir saja dia menjatuhkan kalung manik-manik yang susah payah dirangkainya.
Tante Calya menyesali beberapa helai rambut di tangannya. "Kenapa yang tercabut yang hitam?" keluhnya.
Kalau ubannya yang tercabut, pasti tante Calya tidak terlalu kesal. Li-el menyembunyikan tawa gelinya dengan pura-pura batuk. Dia buru-buru mencari Petra.
Petra sedang kebingungan di depan kamarnya, memegangi pakaian penari jawa. Pakaian milik Zea itu akan dipinjam Li-el.
"Kenapa mengambil pakaian saja lama sekali?" ujar Li-el.
Petra justru mengangkat bahu. Mengherankan. Li-el mengambil pakaian tersebut. Saat Li-el akan kembali menemui tante Calya, Petra menahannya.
"Jangan! cegah Petra. "Bahaya!"
Li-el tertegun. Kenapa ya, pakaian penari Jawa bisa jadi bahaya? Sebelum Petra sempat mengatakan sesuatu, tante Calya muncul. Pandangan tante Calya terpaku pada pakaian di tangan Li-el. Wajahnya berubah tegang, lalu berlalu begitu saja.
Tanpa bilang apa-apa, Petra mengajak Li-el ke kamarnya. Bukannya menjelaskan, Petra justru mengambil kertas. Dia mulai menulis sesuatu.
"Bisa-bisanya Petra menulis cerpen di saat begini?" pikir Li-el bingung. Soalnya, Petra tampak menulis cukup panjang.l Namun, Li-el mencoba tidak bertanya-tanya.
Petra lalu menyerahkan kertasnya. Li-el membaca dengan wajah berkerut.
"Waktu tante Calya berusia sekitar sepuluh tahun, tante Calya dan tiga temannya berlatih tari golek. Mereka akan tampil di pertunjukan 17 agustus. Susah sekali menghafal gerakannya. Mereka jadi sering saling menyalahkan. Suatu kali, tante Calya dan tante Meta bertengkar. Tante April yang malas mendengar pertengkaran mereka, pergi diam-diam. Sedihnya tante April tertabrak sepeda motor. Akibatnya jalan tante April menjadi agak timpang. Sejak saat itu, mereka tidak pernah menari lagi. Tante Calya juga selalu sedih setiap kali melihat kostum menari. Aku lupa menyembunyikan pakaian itu. Tante Calya melihatnya kemarin. Pasti tante Calya sedang sedih sekarang."
Li-el terbelalak. "Jangan-jangan, mereka masih bermusuhan?"
"Sssst!" Petra menempelkan telunjuknya di bibr. Petra sengaja menuliskan di kertas kejadian masa lalu tante Calya itu. Petra tak ingin tante Calya mendengarnya dan semakin sedih.
Li-el meringis bersalah.
"Mereka tetap berteman. Tante April juga tidak menyalahkan siapa-siapa," ujar Petra sedih." Tapi mereka berempat tidak seakrab sebelumnya."
Ah, ternyata tante Calya punya kenangan sedih. Bagaimana cara membuat mereka berempat tidak merasa bersalah lagi? Li-el merenung.
"Siapa tante yang terakhir?" ujar Li-el penuh semangat.
Petra hanya memandang Li-el, tidak mengerti. Pelan-pelan matanya berbinar. "Tante Irma," balas Petra bersemangat. "Yuk kita menemuinya!"
Li-el dan Petra seperti detektif saja, menyelidiki kesana kemari secara rahasia. Berhasil juga keduanya mengetahui alamat tante Irma. Mereka ingin tante Calya dan teman-temannya melakukan pertunjukan tahunan di sekolah. Tante Calya dan teman-temannya kan alumni sekolah, jadi boleh saja. Sepertinya, tante Irma yang paling cocok untuk membujuk teman-temannya.
"Kami tidak ingin menari lagi," tolak tante Irma." Sebenarnya kami tidak berbakat."
"Terus kenapa dulu tante dan teman-teman tante menari?" tanya Li-el.
Tante Irma menghela nafas. "Kami merasa tari golek itu indah sekali. Biarpun gerakan kami tidak luwes, kami ingin menarikannya walau hanya sekali."
Mereka sudah berusaha keras bertahun-tahun. Terus berusaha menari, meskipun sulit untuk mereka. Sekarang saatnya mewujudkan mimpi itu. Bersama-saa menarikan sebuah tarian indah sebagai empat sahabat yang kompak.
"Tante Irma bisa menjadi penengah," ujar Li-el. "Saatnya menyatukan persahabatan, menari bersama dengan indah."
Tante Irma dan Petra terpana. Cara Li-el berbicara memang biasa saja, namun kata-katanya tetap seperti puisi. Tidak sia-sia Li-el menghafalkan kalimat itu di rumah. Lama-lama, tante Irma bersedia. Sepertinya sih gara-gara takut Li-el meneruskan puisi anehnya, hi hi hi....
Meskipun harus berusaha keras membujuk teman-temannya, tante Irma berhasil juga. Tiga hari kemudian, tante Calya dan teman-temannya mulai sibuk berlatih. Mereka benar-benar bersemangat. Kelihatannya mereka juga melupakan apa yang terjadi dulu.
Empat penari ini pun berlatih dan persahabatan mereka seindah tarian mereka - Dongeng Anak Indonesia



