Archive for 05/22/15
Dongeng Nimmy Nimmy Not - Pada suatu masa, ada seorang wanita yang memasak 5 buah kue. Dan saat kue itu dikeluarkan dari oven, terdapat sedikit bagian pinggiran yang keras karena hangus. Karena itu dia berkata kepada putrinya:
"Putriku, simpanlah kue-kue ini ke atas rak, dan biarkanlah kue itu disana sementara waktu, karena bagian yang sedikit hangus, akan perlahan-lahan menjadi lunak nantinya."
Tetapi putrinya salah mendengarkan perintah ibunya dan menyangka ibunya menyuruh ia untuk memakan semua kue tersebut sehingga Ia pun memakan semua kue-kue itu sekaligus.
Saat makan siang tiba, sang Ibu meminta agar anaknya mengambil kue yang berada di atas rak, tetapi putrinya berkata bahwa kue tersebut telah habis di makannya. Sang Ibu menjadi sedikit kecewa, mengambil alat pemintalnya dan mulai memintal sambil bernyanyi:
"Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini."
"Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini."
"Putriku memakan 5 buah kue, 5 buah kue hari ini."
Seorang raja yang kebetulan lewat dan mendengarnya menyanyi, datang mendekat karena ingin mendengar lebih jelas syair lagu yang dinyanyikan oleh sang Ibu. Sang Raja pun bertanya,
"Apa yang engkau nyanyikan, wahai ibu yang baik?"
Sang Ibu yang merasa malu apabila sang Raja mendengar apa yang diperbuat oleh putrinya, mengubah syair lagunya menjadi:
| dongeng nimmy nimmy not, namaku tom tit tot |
"Putriku memintal 5 gulungan emas, 5 gulungan benang emas hari ini."
"Wah!" kata sang Raja, "Saya tidak pernah mendengar ada orang yang mampu berbuat seperti itu."
Kemudian dia berkata lagi: "Saya sudah lama ingin mencari pendamping hidup, dan saya akan menikahi putrimu dengan beberapa persyaratan," katanya lebih lanjut, "sebelas bulan pertama, dia boleh memakan apapun yang dia inginkan dan memakai pakaian dan gaun apapun yang dia sukai, memiliki pelayan berapapun yang dia inginkan; tetapi pada akhir bulan, dia harus memintal 5 gulungan emas setiap hari, jika tidak, putrimu akan saya hukum dan penjarakan di menara selama-lamanya."
"Baiklah," kata sang Ibu; sambil berpikir betapa mewahnya pernikahan putrinya nanti. Dan mengenai 5 gulungan emas, saat waktunya tiba, bermacam-macam alasan akan dicari untuk menghindari kewajiban tersebut dan sepertinya sang Raja juga akan melupakan persyaratannya.
Tidak berapa lama, menikahlah putrinya dengan sang Raja. Dan selama sebelas bulan, sang Putri makan apapun yang diinginkan, mengenakan pakaian dan gaun yang dia sukai, dan memiliki pelayan sebanyak yang diiginkannya.
Waktu tidak terasa berlalu hingga bulan ke-sebelas hampir tiba, dan sang Putri mulai menebak-nebak pikiran sang Raja yang telah menjadi suaminya mengenai gulungan benang emas yang dijanjikannya. Tetapi sang Raja tidak pernah menyinggung apapun hal mengenai benang emas.
Akhirnya di hari terakhir di bulan ke-sebelas, sang Raja membawanya ke suatu ruangan yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dan di ruangan tersebut hanya terdapat alat pemintal dan bangku tempat duduk. Lalu sang Raja berkata, "Sekarang telah tiba saatnya, mulai hari esok, pelayan akan membawakan kamu jerami untuk dipintal dan kamu harus tetap berada di ruangan ini untuk memintal 5 gulungan benang emas setiap malam atau kamu akan mendapatkan hukuman."
Saat itu, sang Putri menjadi sangat takut karena dia sendiri tidak terlalu tahu memintal. Apa yang bisa diperbuat besok apabila tidak ada orang yang datang menolongnya? Dia lalu ke dapur, duduk di sebuah bangku dan menangis.
Saat itu didengarlah sebuah suara yang mengetuk pintu dapur, dan saat dia berdiri dan membuka pintu, dia melihat satu makhluk hitam yang aneh dan memiliki ekor panjang, memandangnya dan bertanya kepadanya:
"Apa yang engkau tangisi?"
"Mengapa engkau menanyakan hal itu?" kata sang Putri.
"Tidak apa-apa," katanya makhuluk itu lagi, "kamu dapat menceritakannya kepadaku."
"Tapi ini tidak akan merubah keadaan walaupun saya menceritakannya," kata sang Putri.
"Kamu belum tentu benar," katanya sambil memutar-mutarkan ekornya.
"Baiklah," kata sang Putri sembari menceritakan semua kisahnya tentang kue, gulungan benang emas dan lainnya.
"Ini yang akan saya lakukan," kata makhluk hitam itu, "Saya akan datang ke jendelamu setiap pagi dan membawa pergi jerami untuk saya pintal menjadi benang emas dan setiap malam saya akan memberikan kamu hasil pintalanku."
"Apa yang kamu minta sebagai pembayaran?" kata sang Putri.
"Saya akan memberi kamu kesempatan 3 kali menebak namaku, dan jika kamu tidak bisa menebaknya dalam 1 bulan, kamu akan menjadi milik saya."
Karena sang Putri berpikir bahwa dia akan berhasil menebak sebelum bulan 12 berakhir, dia menyetujui persyaratan itu.
Keesokan harinya, sang Raja membawanya kembali ke ruangan pintal yang telah penuh dengan jerami.
"Itu adalah jerami yang harus kamu pintal menjadi gulungan benang emas," katanya, "apabila tidak selesai, kamu akan saya hukum." Sang Raja pun beranjak pergi dan mengunci pintu.
Tidak terlalu lama kemudian, sang Putri mendengarkan ketukan pada jendelanya.
Sang Putri lalu berdiri dan membuka jendela, saat itu dilihatnya makhluk hitam yang ditemui kemarin.
"Mana jeraminya?" tanya makhluk itu.
"Ini dia," kata sang Putri sambil memberikan jerami kepadanya.
Saat malam tiba, makhluk tersebut datang dan mengetuk kembali jendelanya, lalu memberikannya 5 gulungan benang emas.
"Ini yang saya janjikan," katanya.
"Sekarang, tebaklah siapa namaku?" katanya kembali.
"Apakah namamu Bill?" tebak sang Putri.
"Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya.
"Apakah namamu Ned?" tebak sang Putri lagi.
"Bukan, namaku bukan itu," kata makhluk hitam sambil memutar-mutarkan ekornya.
"Apakah namamu Mark?" tebak sang Putri lagi.
"Bukan, bukan itu," katanya lalu pergi.
Saat sang Raja masuk ke dalam ruangan, dilihatnya 5 buah gulungan benang emas telah siap. "Saya lihat kamu telah menjalankan tugasmu," katanya, "Kamu akan mendapatkan jerami dan makanan lagi pada keesokan pagi," katanya sambil beranjak pergi.
Kejadian tersebut berulang terus-menerus, setiap hari jerami dan makanan dibawa masuk ke ruang pintal, setiap hari makhluk itu datang mengambil jerami dan malamnya memberikan gulungan benang emas, dan setiap kali pula sang Putri tidak pernah menebak dengan benar nama makhluk hitam itu, hingga tiba pada hari sebelum hari terakhir di bulan tersebut, sang Makhluk itu datang membawakan 5 gulungan benang emas. Wajah makhluk itu menjadi terlihat sangat jahat, dengan mata yang menyala seperti bara api, makhluk itu berkata: "Besok adalah hari terakhir, dan kamu akan menjadi milik saya!" lalu sang Makhluk berangkat pergi.
Sang Putri menjadi sangat ketakutan, tapi malam itu juga sang Raja datang ke ruang pintal dan setelah melihat 5 gulungan telah tersedia, sang Raja berkata:
"Sayangku, saya lihat kamu telah menyelesaikan janji mu, setelah keesokan hari, kamu akan terbebas dari hukuman. Mari kita rayakan dengan makan malam bersama."
Saat mereka makan, sang Raja tiba-tiba berhenti makan lalu tertawa.
"Apa yang membuat paduka tertawa?" tanya sang Putri.
"Beberapa hari yang lalu, saya berburu dan tiba di suatu hutan yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Dan di hutan itu saya menemukan sebuah gua kecil. Dari dalam gua tersebut, saya mendengar sebuah nyanyian. Dengan diam-diam saya masuk ke dalam gua tersebut dan melihat ke dalamnya. Saya melihat makhluk terlucu yang pernah saya lihat seumur hidup, sedang memintal dengan ekornya yang berputar cepat, sambil menyanyi:
"Nimmy nimmy not
Namaku Tom Tit Tot."
Namaku Tom Tit Tot."
Saat sang Putri mendengar hal ini, dia merasa sangat gembira dan ingin melompat kegirangan, tetapi dia berusaha untuk menahan diri dan tidak berkata apa-apa.
Hari berikutnya saat sang Makhluk Hitam datang pada malam hari, terlihat senyum jahatnya yang sangat lebar dan ekornya yang berputar kencang.
"Siapa nama saya?" tanyanya sambil memberikan gulungan benang emas ke sang Putri.
"Apakah Solomon?" jawab sang Putri sambil berpura-pura ketakutan.
"Bukan, namaku bukan itu," katanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Apakah Zebedee?" tebak sang Putri kembali.
"Bukan, namaku bukan itu," kata sang Makhluk Hitam sambil tertawa.
"Berpikirlah baik-baik, katanya kembali; "setelah tebakan berikut, kamu akan menjadi milikku." Lalu tangannya mulai menggapai untuk memegang sang Putri.
Sang Putri mundur satu-dua langkah, menatap makhluk tersebut, kemudian tertawa dan berkata:
"Nimmy nimmy not, namamu adalah Tom Tit Tot!"
Saat makhluk itu mendengarnya, makhluk itu berteriak marah dan pergi menjauh ke dalam kegelapan, dan semenjak saat itu, sang Putri tidak pernah melihatnya lagi, dan sang Putri dapat hidup berbahagia selama-lamanya dengan sang Raja.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Nimmy Nimmy Not, Namaku Tom Tit Tot (Joseph Jacobs) | DONGENG ANAK DUNIA
Dongeng Nenek Hulda - Seorang janda memiliki dua orang putri, putri tiri yang cantik dan rajin, dan putri kandung yang buruk rupa dan malas. Tetapi karena putri yang buruk rupa adalah putri kandung, ibunya sangat mencintai putri tersebut dan putri tirinya-lah yang ditugaskan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Setiap hari putri tirinya duduk di samping sumur dan menenun hingga tangannya berdarah. Suatu saat, tangannya terluka oleh alat dan jarum tenun, ketika sang putri mencoba untuk mencuci tangannya di sumur, secara tidak sengaja alat tenun yang dipegang terlepas dari tangannya dan jatuh ke dalam sumur. Dia lalu mulai menangis dan melaporkan hal tersebut ke ibu tirinya, tetapi ibu tirinya memarahi dia tanpa belas kasihan dan berkata dalam keadaan marah:
"Karena kamu yang membiarkan alat tenun itu jatuh, kamu harus mengambilnya kembali!"
Putri tiri itu berbalik kembali ke sumur, tidak tahu apa yang akan diperbuat, dalam keadaan putus asa melompat masuk ke dalam sumur untuk mengambil alat tenun yang jatuh. Setelah melompat turun, dia menjadi tidak sadar, dan ketika tersadar, dia telah berada pada padang rumput yang indah, matahari bersinar dan bunga-bunga mekar di sekelilingnya. Dia lalu berjalan melintasi padang rumput hingga menemukan oven/pembakar roti yang penuh dengan roti; dan roti-roti tersebut memanggil-manggilnya,
"Oh, keluarkanlah Saya, keluarkanlah Saya, atau Saya menjadi hangus; Saya sekarang sudah matang!"
Kemudian putri tiri mendekat, dan dengan alat seperti sendok besar, dia mengeluarkan roti tersebut satu-persatu. Kemudian berjalan pergi lebih jauh hingga menemukan sebuah pohon yang sarat dengan buah apel, dan pohon tersebut memanggilnya,
Lalu sang Putri tiri menggoyangkan batang pohon tersebut sampai buah apelnya berjatuhan seperti hujan hingga tidak ada lagi apel yang bisa terjatuh; kemudian dia mengumpulkan apel tersebut dalam satu tumpukan, lalu berjalan pergi lebih jauh lagi. Hingga akhirnya dia tiba di sebuah rumah kecil, dan seorang nenek yang sudah tua terlihat mengintip keluar dari rumah tersebut. Nenek tersebut memiliki gigi yang sangat besar sehingga sang Putri tiri menjadi ketakutan dan berniat untuk lari, tetapi nenek tersebut memanggilnya kembali.
"Apa yang kamu takutkan, wahai anak ku? Datang dan tinggallah dengan saya, dan jika kamu melakukan pekerjaan rumah tangga dengan benar dan teratur, segalanya akan berjalan baik untuk kamu. Kamu harus membersihkan dan merapihkan ranjangku juga dengan baik sehingga semua bulu pada kasur beterbangan, dan di dunia akan turun salju, karena saya adalah nenek Hulda."
Karena nenek tersebut bertutur-kata dengan sangat baik, sang Putri tiri memberanikan diri, menerima tawaran nenek Hulda dan mulai bekerja. Dia melakukan semuanya sehingga nenek tersebut puas, dan dia juga mengibas-ngibaskan kasur nenek tersebut hingga bulu-bulu pada kasur beterbangan seperti salju. Dia hidup dengan bahagia dan senang, tidak pernah bertentangan dengan sang Nenek. Saat dia tinggal cukup lama dengan nenek Hulda, dia mulai merasa sedih karena rindu akan rumah lamanya, walaupun dia sekarang tinggal di rumah yang ribuan kali lebih baik dibandingkan rumah lamanya, dia tetap merasa rindu, dan akhirnya mengutarakan maksudnya ke sang Nenek,
"Saya rindu akan rumah, dan walaupun saya hidup sangat baik di sini, Saya tidak dapat tinggal lebih lama lagi, Saya ingin kembali ke rumahku sendiri."
nenek Hulda menjawab,
"Saya juga senang saat tahu bahwa kamu rindu akan rumahmu, dan, karena kamu telah melayani saya dengan sangat baik dan tulus, Saya akan mengirim kamu pulang ke sana!"
Dia lalu memegang tangan sang Putri tiri lalu menuntunnya melewati pintu yang sangat besar, dan ketika dia melewati pintu tersebut, dia dihujani dengan emas sehingga sekelilingnya penuh dengan emas.
"Semua ini adalah milikmu, karena kamu telah bekerja keras," kata nenek Hulda; dan bersama itu sang Nenek mengembalikan alat tenun yang dijatuhkan oleh sang Putri di dalam sumur. Saat pintu tertutup, sang Putri tiri menemukan dirinya telah berdiri di dekat rumah ibunya; dan ketika dia berjalan pulang ke rumahnya, dia melewati seekor ayam yang berdiri di pinggiran sumur yang sedang berkokok nyaring dan berkata,
"Kukuruyuk! Putri Emas kita telah tiba di rumah!"
Lalu sang Putri tiri pergi menemui ibunya dengan badan yang penuh digantungi dan dilapisi oleh emas yang dia dapatkan.
Sang Putri tiri lalu menceritakan semua peristiwa yang dialami, dan saat ibu tirinya mendengar cerita tersebut, ibu tirinya berharap bahwa putrinya yang satu bisa mengalami keberuntungan yang sama dengan putri tirinya. Untuk itu dia lalu menyuruh putri kandungnya untuk duduk di pinggir sumur dan menenun, dan agar tangannya cepat terluka, dia menusuk tangannya dengan duri, lalu membuang alat tenun ke dalam sumur, dan melompat masuk ke dalam sumur. Dia juga mengalami hal yang sama dengan saudari tirinya, tiba di lapangan rumput yang indah, dan dengan mengikuti jalur yang sama, dia juga menemukan oven roti yang memanggilnya,
"Oh, keluarkanlah Saya, keluarkanlah Saya, atau Saya menjadi hangus; Saya sekarang sudah matang!"
Tetapi putri malas ini hanya menjawab,
"Saya tidak ingin tangan saya menjadi hitam," lalu berjalan lebih jauh hingga bertemu dengan pohon apel yang memanggilnya,
"Oh, goyangkan aku, goyangkan aku, apel-apel ku sudah matang!"
Tapi dia hanya menjawab,
"Ini sudah baik; seharusnya satu diantara apel-apel mu jatuh di atas kepalaku," lalu pergi berjalan lebih jauh. Saat dia menemukan rumah nenek Hulda, dia tidak merasa takut karena telah mendengar cerita dari saudari tirinya tentang gigi nenek Hulda yang besar. Dia akhirnya juga bekerja di rumah nenek Hulda. Hari pertama, dia masih bekerja dengan rajin, dia melakukan semua yang nenek Hulda perintahkan, karena sangat ingin mendapatkan emas yang banyak; tetapi hari kedua kemalasannya mulai muncul, begitu pula dengan hari ketiga dan berikutnya, sampai suatu hari dia tidak bangun pagi lagi. Akhirnya nenek Hulda tidak senang dengan putri yang malas tersebut dan memberikan peringatan bahwa kelakuan yang malas juga akan mendapatkan ganjaran; lalu nenek Hulda mengantarkan putri tersebut melewati pintu besar dan saat sang Putri berdiri di pintu tersebut, bukan emas yang menghujani dirinya, tetapi cairan hitam seperti aspal.
"Itulah balasan untuk pelayanan kamu," kata nenek Hulda sambil menutup pintu. Akhirnya putri yang malas itu pulang ke rumah dengan di selimuti oleh cairan aspal, dan ayam jantan yang berdiri di pinggir sumur berkokok:
"Kukuruyuk!" Putri yang kotor telah tiba di rumah!"
Dan aspal tersebut terus menempel di badan putri yang malas, tidak pernah dapat terlepas selama hidupnya.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng nenek hulda ini adalah
Dongeng Nenek Hulda (Brothers Grimm) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng nelayan dan ikan kecil |
"Mohon lepaskan aku, tuan nelayan! Saya sangat kecil hingga tidak berharga untuk dibawa pulang ke rumah. Saat saya menjadi lebih besar nanti, saya akan menjadi santapan yang lebih lezat untuk tuan."
Tetapi sang Nelayan tetap menaruh ikan tersebut di keranjangnya.
"Betapa bodohnya saya jika melepaskan ikan ini." kata Nelayan. "Bagaimana kecilpun ikan yang saya tangkap, tetap lebih baik daripada tidak ada tangkapan sama sekali."
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng nelayan dan ikan kecil ini adalah
Hasil yang kecil lebih berharga dibandingkan dengan janji-janji muluk.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Nelayan dan Ikan Kecil (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
Seorang murid sekolah yang sangat nakal dan sering membolos dari sekolah, suatu saat berencana untuk mengambil dan memetik buah-buahan dari suatu kebun tanpa sepengetahuan pemiliknya.
| dongeng Murid Nakal, Kepala Sekolah dan Pemilik Kebun |
Dongeng murid nakal, kepala sekolah dan pemilik kebun - Pemilik kebun ini, di setiap musim panen, selalu membanggakan hasil panennya yang sangat baik. Pada musim semi, dia bisa menunjukkan bunga-bunga yang mekar pada pohonnya dan di musim gugur dia bisa memetik apelnya yang telah ranum.
Suatu hari, pemilik kebun ini melihat murid sekolah ini dengan sembarangan memanjat pohon buah dan menjatuhkan buah-buahan yang telah masak maupun belum masak. Murid nakal ini bahkan mematahkan dahan-dahan pohon, dan melakukan begitu banyak kerusakan sehingga pemilik kebun ini mengirimkan laporan berisikan keluhan kepada kepala sekolah di mana anak tersebut bersekolah. Kepala sekolah ini datang segera ke kebun tersebut dan membawa murid-murid yang lain di belakangnya. Kepala sekolah ini ingin memarahi dan menghukum murid nakal tersebut dan memberikan contoh kepada murid lainnya bahwa setiap perbuatan yang nakal, akan mendapatkan hukuman. Tetapi apa yang terjadi? rencana kepala sekolah tersebut menjadi berantakan dan malah memperparah keadaan, karena saat murid-murid yang lain melihat pohon apel yang telah ranum, mereka langsung menyerbu ke kebun dan memanjat pohon serta memetik buah apel dari pohon.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng Murid Nakal, Kepala Sekolah dan Pemilik Kebun ini adalah
Janganlah membanggakan apa yang dimiliki dengan berlebihan karena dapat berdampak buruk.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Murid Nakal, Kepala Sekolah dan Pemilik Kebun (Jean de La Fontaine) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng monyet dan unta peniru |
Pujian yang didapatkan oleh sang Monyet membuat seekor unta yang hadir menjadi iri hati. Dia sangat yakin bahwa ia bisa menari seindah tarian sang monyet, bahkan mungkin lebih baik lagi, karena itu dia maju ke depan menerobos kerumunan hewan yang menonton tarian monyet, dan sang Unta mengangkat kaki depannya, mulai menari. Tapi unta yang sangat besar itu membuat dirinya kelihatan konyol saat menendang-nendangkan kakinya ke depan dan memutar-mutarkan lehernya yang kaku dan panjang. Selain itu, sang unta sulit untuk menjaga agar tapak kakinya yang besar tetap terangkat ke atas.
Akhirnya, salah satu tapak kakinya yang besar hampir mengenai hidung sang Raja Hutan sehingga hewan-hewan yang jengkel melihat tingkah sang Unta, mengusirnya keluar sampai ke padang gurun.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng monyet dan unta peniru ini adalah
Jangan memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dapat kamu lakukan.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Monyet dan Unta Peniru (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng monyet dan kucing memanggang kacang |
Suatu hari mereka duduk di perapian sambil membakar kacang kastanya (chestnut). Bagaimana cara mereka mengeluarkan kacang tersebut dari panggangan api? Inilah yang menjadi pertanyaan bagi mereka.
"Saya dengan senang hati akan mengeluarkan kacang tersebut dari panggangan api," kata monyet yang licik, "tetapi kamu lebih ahli dalam hal ini dibandingkan saya. Tariklah keluar kacang-kacang tersebut dari api dan kita akan membaginya dengan adil."
Sang Kucing lalu menjulurkan tangannya dengan hati-hati, lalu dengan cepat menarik kacang yang sangat panas dari panggangan api. Ia mengulangi lagi dan menarik kacang tersebut keluar sedikit demi sedikit, dan pada usaha ketiganya, sang Kucing berhasil menarik keluar kacang tersebut. Aksi ini di lanjutkan beberapa kali terhadap kacang yang masih ada dalam panggangan. Secepat tangannya yang menarik kacang tersebut dari api, secepat itu pula sang Monyet mengambil dan memakannya.
Saat sang pemilik rumah pulang, kedua hewan yang nakal ini lari terbirit-birit menyembunyikan diri, dan sang Kucing yang bekerja keras hingga telapaknya melepuh oleh panas api, tidak mendapatkan satu buah kacang pun. Semenjak saat itu, ia tidak pernah lagi mau berurusan dengan sang Monyet yang licik.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng monyet dan kucing memanggang kacang ini adalah
Orang yang memberikan pujian palsu, mempunyai maksud yang tidak baik yaitu untuk memanfaatkan.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Monyet dan Kucing Memanggang Kacang (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
Dongeng member lonceng pada kucing - Suatu hari tikus-tikus berkumpul untuk berdiskusi dan memutuskan untuk membuat rencana yang akan membebaskan mereka selama-lamanya dari musuh mereka, yaitu kucing. Mereka berharap paling tidak mereka akan menemukan cara agar tahu kapan kucing tersebut akan datang, sehingga mereka mempunyai waktu untuk lari. Karena selama ini mereka terus hidup dalam ketakutan pada cakar kucing tersebut dan mereka terkadang sangat takut untuk keluar dari sarangnya di siang hari maupun malam hari.
| dongeng memberi lonceng pada kucing |
Banyak rencana yang telah didiskusikan, tetapi tak ada satupun dari rencana tersebut yang mereka rasa cukup bagus. Akhirnya seekor tikus yang masih muda bangkit berdiri dan berkata:
"Saya mempunyai rencana yang mungkin terlihat sangat sederhana, tetapi saya bisa menjamin bahwa rencana ini akan berhasil. Yang perlu kita lakukan hanyalah menggantungkan sebuah lonceng pada leher kucing itu. Ketika kita mendengar lonceng berbunyi, kita bisa langsung tahu bahwa musuh kita telah datang."
Semua tikus yang mendengar rencana tersebut terkejut karena mereka tidak pernah memikirkan rencana tersebut sebelumnya. Mereka kemudian bergembira karena merasa rencana itu sangat bagus, tetapi di tengah-tengah kegembiraan mereka, seekor tikus yang lebih tua maju ke depan dan berkata:
"Saya mengatakan bahwa rencana dari tikus muda itu sangatlah bagus. Tetapi saya akan memberikan satu pertanyaan: Siapa yang akan mengalungkan lonceng pada kucing tersebut?"
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng memberi lonceng pada kucing ini adalah
Kadang kala, rencana yang bagus tak semudah apa yang dipikirkan, maka rencana harus dipertimbangkan dengan matang.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Memberi Lonceng pada Kucing (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng kura-kura dan sepasang itik |
Dongeng kura-kura dan sepasang itik - Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.
Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.
Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.
"Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia," kata itik tersebut. "Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal."
Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.
Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:
"Kamu pastilah Raja dari kura-kura!"
"Pasti saja......" kura-kura mulai berkata.
Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kura-kura dan sepasang itik ini adalah
Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan dapat menyebabkan kesialan.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Kura-kura dan Sepasang Itik (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
Dongeng kuda dan keledai yang sarat dengan beban - Pernah ada seorang pria yang memelihara seekor kuda dan seekor keledai untuk mengangkat beban. Sudah menjadi kebiasaan pria tersebut untuk memuati keledainya dengan beban yang berat sampai keledai tersebut terhuyung-huyung karena beban yang terlalu berat, sementara sang Kuda diizinkan untuk berjingkrak sepanjang jalan dengan beban yang ringan.
| dongeng kuda dan keledai yang sarat dengan beban |
Saat mereka melakukan perjalan di suatu hari, sang Keledai yang telah menderita sakit selama beberapa hari terakhir, berkata kepada sang Kuda, "Maukah kamu mengangkut sebagian dari beban saya untuk beberapa kilometer saja? Aku merasa sangat tidak enak badan, tetapi jika kamu mau membawa sebagian bebanku hari ini, mungkin saya akan cepat sembuh kembali. Beban yang terlalu berat ini bisa membunuhku."
Sang Kuda hanya menendang-nendangkan kakinya dan berkata kepada sang Keledai agar tidak usah mengeluh dan mengganggunya dengan kata-kata keluhan. Sang Keledai menjadi terhuyung-huyung selama berjalan setengah kilometer lagi dan tiba-tiba jatuh ke tanah dan mati.
Saat itulah, si Pemilik datang dan hanya bisa berpasrah dengan apa yang telah terjadi. Ia lalu melepaskan beban dari keledai yang telah mati, lalu ditempatkan di atas punggung kuda. "Aduh," keluh sang Kuda saat dia merasakan beban berat di punggungnya, di tambah dengan berat tubuh sang Keledai yang telah mati, "Sekarang saya mendapatkan ganjaran karena sifat saya yang jelek. Dengan menolak menanggung sebagian beban sang Keledai, sekarang saya harus membawa seluruh beban tersebut, ditambah dengan berat tubuh teman saya yang malang ini."
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kuda dan keledai yang sarat dengan beban ini adalah
Tanamlah sifat untuk saling membantu satu sama dengan yang lain karena kita tidak dapat hidup sendiri dan suatu saat pasti kita memerlukan bantuan orang lain.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Kuda dan Keledai yang Sarat dengan Beban (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng kucing, ayam jantan dan tikus muda |
Dongeng Kucing, ayam jantan dan tikus muda - Seekor tikus muda yang belum pernah keluar dari sarangnya, merasa sangat gembira saat dia pertama kali keluar untuk melihat dunia luar. Dan ini adalah pengalaman yang diceritakan ke ibunya saat bertualang.
"Saya berjalan-jalan dengan santai, dan saat saya tiba di sudut halaman sebelah, saya melihat dua makhluk yang sangat aneh. Yang satu kelihatan anggun dan baik hati, sedang yang lainnya adalah makhluk yang paling menakutkan yang pernah ibunda bayangkan. Ibunda harus melihatnya."
"Di atas kepala dan di depan lehernya tergantung selembar daging yang berwarna merah. Dia berjalan tak henti-hentinya, mencakar-cakar tanah dengan jari kakinya, memukul-mukulkan lengannya dengan keras di samping tubuhnya. Saat dia melihat saya, dia membuka mulutnya yang runcing seolah-olah akan menelan saya, dan makhluk itu berteriak keras dan tajam sehingga saya hampir mati ketakutan."
Dapatkah kamu menebak apa yang dilihat dan yang dijelaskan oleh tikus muda kepada ibunya? Tidak lain adalah ayam jantan dan ayam jantan tersebut adalah ayam yang pertama dilihat oleh sang Tikus Muda.
"Seandainya bukan karena makhluk yang mengerikan itu," lanjut sang Tikus Muda, "Saya pasti telah berkenalan dengan makhluk cantik yang terlihat begitu baik dan lembut. Dia memiliki bulu yang tebal, wajah yang tenang, dan tindak tanduk yang sopan, dan matanya juga terang dan bersinar. Saat dia melihat saya, dia mengibaskan ekornya yang cantik sambil tersenyum.
"Saya yakin saat itu dia mendatangi saya untuk berbicara ketika makhluk mengerikan yang tadinya saya jelaskan ke ibunda, berteriak dengan keras hingga saya terpaksa lari ketakutan."
"Anakku," kata sang Ibu, "makhluk yang kelihatan halus yang kamu lihat itu, adalah kucing. Dibalik penampilannya yang baik, dia menyimpan niat jahat terhadap kita. Makhluk lainnya yang kamu liat, tidak lain adalah sejenis burung yang tidak akan pernah menyakiti kita, sedangkan kucing akan langsung memangsa kita. Bersyukurlah anakku, kamu selamat dari bahaya, dan selama hidupmu, janganlah pernah menilai sesuatu dari penampilannya."
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kucing, ayam jantan dan tikus muda ini adalah
Dongeng Kucing, Ayam Jantan dan Tikus Muda (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng kucing dan tikus tua yang berpengalaman |
Saat tikus-tikus melihat posisi kucing seperti itu, mereka menyangka bahwa sang Kucing di gantung seperti itu karena melakukan kesalahan. Dengan hati-hati, mereka mengeluarkan kepala mereka dari sarang dan mengendus-endus kesana-kemari. Karena tidak terjadi apa, mereka akhirnya melompat keluar dari sarang dan menari-nari dengan gembira untuk merayakan kebebasan mereka.
Saat itulah sang Kucing tiba-tiba melepaskan pegangannya pada tali, dan sebelum tikus-tikus tersebut tersadar dari rasa terkejut mereka, sang Kucing telah menangkap tiga sampai empat ekor tikus.
Sekarang tikus-tikus makin berhati-hati. Tetapi sang Kucing yang selalu ingin menangkap tikus, membuat tipuan yang lain. Mengguling-gulingkan tubuhnya ke tempat terigu hingga tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh terigu, lalu sang Kucing berbaring diam-diam dengan satu mata terbuka.
Yakin bahwa keadaan aman, tikus-tikus mulai keluar kembali dari sarang. Saat sang Kucing yang berbaring diam, telah siap-siap untuk menerkam tikus-tikus tersebut, seekor tikus tua yang berpengalaman dengan tipuan sang Kucing, dan pernah kehilangan ekornya akibat kecerobohannya di masa muda, berdiri sambil menjaga jarak di dekat sarang mereka.
"Hati-hati!" teriaknya. "Mungkin terigu itu kelihatan seperti tumpukan makanan yang lezat, tetapi sepertinya itu adalah tipuan dari sang Kucing. Apapun itu, lebih baik kalian semua berhati-hati dan menjaga jarak yang aman."
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kucing dan tikus tua yang berpengalaman ini adalah
Belajarlah dari pengalaman agar tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Kucing dan Tikus Tua yang Berpengalaman (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
Dongeng kucing dan rubah - Suatu kali, ada seekor kucing dan seekor rubah yang melakukan perjalanan bersama-sama. Sambil berkelana, mereka sama-sama berburu tikus ataupun ayam yang gemuk di sana-sini, dan setiap makan, mereka sering mengobrol sambil berdebat. Dan terkadang perdebatan mereka membuat salah satunya marah.
| dongeng kucing dan rubah |
"Kamu pikir kamu pandai sekali ya?" kata sang Rubah. "Ataukah kamu hanya sok tahu? Karena saya merasa, saya lebih banyak mengetahui trik-trik dibandingkan kamu!"
Sang Kucing pun membalas dengan nada marah, "Saya mengaku, saya hanya menguasai satu trik, tetapi dengan satu trik ini, terus terang saya katakan, bernilai seribu kali lebih baik daripada trik-trikmu!"
Tidak berapa lama, mereka mendengarkan terompet pemburu dan gonggongan anjing pemburu. Dalam sekejap, sang Kucing memanjat ke atas pohon dan bersembunyi di antara daun-daunan yang lebat.
"Inilah trik saya," katanya kepada sang Rubah. "Sekarang perlihatkan padaku trik-trikmu yang berharga."
Walaupun sang Rubah memiliki banyak rencana untuk meloloskan diri, ia tidak dapat menentukan rencana dan trik yang mana akan dicobanya terlebih dahulu. Saat anjing pemburu telah dekat, ia mencoba menghindar kesana-kemari. Kemudian ia mempercepat larinya, lalu bersembunyi masuk ke dalam lubang, tetapi semuanya sia-sia. Anjing-anjing pemburu itu berhasil menangkapnya.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kucing dan rubah ini adalah
Satu hal yang bersifat praktis selalu lebih berharga dibandingkan kecerdasan yang tidak digunakan dengan baik.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Kucing dan Rubah (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng kodok dan seekor kerbau |
Dongeng kodok dan seekor kerbau - Seekor kerbau datang ke sebuah kolam yang penuh dengan alang-alang untuk minum. Ketika dia menginjakkan kakinya yang berat ke atas air, secara tidak sengaja dia menginjak seekor kodok kecil sehingga masuk ke dalam lumpur. Ibu kodok yang tidak melihat kejadian itu selanjutnya mulai merasa kehilangan satu anakknya dan bertanya kepada anak kodok yang lainnya apa-apa saja yang terjadi dengan anak kodok itu.
"Satu makhluk yang sangat besar," kata salah satu dari anak kodok , "menginjak saudaraku dengan kakinya yang sangat besar!"
"Besar katanya!" kata ibu kodok, sambil meniup dirinya sendiri sehingga menggelembung menjadi besar. "Apakah dia sebesar ini?"
"Oh, jauh lebih besar!" kata mereka serempak.
Ibu kodok kembali menggelembungkan dirinya lebih besar lagi.
"Dia tidak mungkin lebih besar dari ini," katanya kembali. Tetapi kodok-kodok yang kecil itu mengatakan bahwa makhluk tersebut jauh lebih besar dan ibu kodok tersebut terus meniup dan menggelembungkan dirinya lagi dan lagi hingga dia meledak.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kodok dan seekor kerbau ini adalah
Dongeng Kodok dan Seekor Kerbau (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng kerbau penarik kereta dan roda kereta |
Dongeng kerbau penarik kereta dan roda kereta - Sepasang kerbau menarik sebuah kereta yang berat dengan muatan di sepanjang jalan desa yang berlumpur. Mereka menarik kereta tersebut dengan sekuat tenaga tanpa mengeluarkan sepatah kata keluhan.
Berbeda dengan roda kereta. Walaupun tugasnya sangat ringan dibandingkan dengan tugas yang dikerjakan oleh sepasang kerbau itu, sang Roda berciut-ciut dan mengeluarkan keluhan di setiap belokan. Kerbau yang malang dan yang telah bekerja keras menarik kereta melalui lumpur, akhirnya tidak tahan mendengar keluhan dari sang Roda.
"Diamlah!" teriak sang Kerbau kehilangan kesabaran. "Apa yang kalian keluhkan dengan begitu keras? Kami yang bekerja keras menarik segala beban yang berat ini, bukan kalian, dan sampai saat ini, kami tidak pernah mengeluh di sepanjang jalan."
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng kerbau penarik kereta dan roda kereta ini adalah
Janganlah mengeluh, karena banyak orang lain yang mempunyai pekerjaan yang lebih berat dan tetap bersyukur.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home