Archive for 05/23/15
Seorang pemuda yang sangat terkenal diantara teman-temannya karena boros dan royal, dengan cepat menghabiskan kekayaannya. Suatu hari, sang Pemuda ini sudah tidak memiliki uang lagi dan harta yang ada padanya, hanyalah pakaian yang dipakainya.
Sang Pemuda itu berjalan dengan maksud menemui temannya di pagi itu, dan sembari berjalan, sang Pemuda ini berpikir bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan uang untuk berfoya-foya lagi. Tepat pada saat itu, seekor burung layang-layang terbang melintas dan berkicau riang, dan sang Pemuda berpikir bahwa musim panas telah tiba, oleh karena itu, dia lalu menjual jubah dan celana panjangnya kepada teman yang ditemuinya.
Beberapa hari kemudian, cuaca berubah menjadi sangat dingin; sedangkan sang Pemuda yang hanya memakai baju tipis dan celana pendek, terpaksa gemetar menahan rasa dingin.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pemuda dan seekor burung layang-layang ini adalah
Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari suatu bukti kecil.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Pemuda dan Seekor Burung Layang-Layang (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng pemerah susu dan embernya |
Seorang wanita pemerah susu telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan berjalan pulang kembali dari peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya kedepan.
"Susu yang saya perah ini sangat baik mutunya," pikirnya menghibur diri, "akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!"
Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pemerah susu dan embernya ini adalah
Dongeng Pemerah Susu dan Embernya (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng pemburu dan penebang kayu |
Seorang pemburu yang tidak terlalu berani, sedang mencari jejak seekor singa. Dia lalu bertemu dengan seorang penebang kayu di dalam hutan dan dia pun bertanya kepada penebang itu jika saja ia melihat adanya tanda-tanda jejak sang Singa atau tahu di mana singa tersebut bersarang.
"Saya tahu," kata penebang kayu itu, "sekaligus saya bisa menunjukkan dan memperlihatkan kamu dimana Singa itu berada sekarang."
Sang Pemburu berubah menjadi sangat pucat hingga giginya berbunyi karena gemetaran akibat rasa takut. Ia pun menjawab, "Tidak, terima kasih, saya tidak meminta semua itu, saya hanya mencari jejak kakinya, dan bukan singanya."
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pemburu dan penebang kayu ini adalah
Perkataan dan perbuatan seseorang harus dapatlah dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Pemburu dan Penebang Kayu (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas tanah :
"HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU"
Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis di Batu
"HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU"
Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, "Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya di tanah dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?
Temannya pun menjawab : "Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas tanah, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya"
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pasir dan batu ini adalah
Teman yang baik akan melupakan dan memaafkan sakit yang diterimanya dan teman yang baik akan mengingat selalu kebaikan temannya.
Dongeng Pasir dan Batu (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng pangeran kodok |
Pada jaman dahulu kala, ketika saat itu dengan mengharapkan sesuatu, hal itu dapat terwujud, ada seorang Raja yang mempunyai putri-putri yang sangat cantik jelita, dan putrinya yang termuda begitu cantiknya sehingga matahari sendiri yang melihat kecantikan putri termuda itu menjadi ragu-ragu untuk bersinar. Di dekat istana tersebut terletak hutan kayu yang gelap dan rimbun, dan di hutan tersebut, di bawah sebuah pohon tua yang mempunyai daun-daun berbentuk hati, terletak sebuah sumur; dan ketika cuaca panas, putri Raja yang termuda sering ke hutan tersebut untuk duduk di tepi sumur yang dingin, dan jika waktu terasa panjang dan membosankan, dia akan mengeluarkan bola yang terbuat dari emas, melemparkannya ke atas dan menangkapnya kembali, hal ini menjadi hiburan putri raja untuk melewatkan waktu.
Suatu ketika, bola emas itu dimainkan dan dilempar-lemparkan keatas, bola emas itu tergelincir dari tangan putri Raja dan terjatuh di tanah dekat sumur lalu terguling masuk ke dalam sumur tersebut. Mata putri raja hanya bisa memandangi bola tersebut meluncur kedalam sumur yang dalam, begitu dalamnya hingga dasar sumur tidak kelihatan lagi. Putri raja tersebut mulai menangis, dan terus menangis seolah-olah tidak ada yang bisa menghiburnya lagi. Di tengah-tengah tangisannya dia mendengarkan satu suara yang berkata kepadanya,
"Apa yang membuat kamu begitu sedih, sang Putri? air matamu dapat melelehkan hati yang terbuat dari batu."
Dan ketika putri raja tersebut melihat darimana sumber suara tersebut berasal, tidak ada seseorangpun yang kelihatan, hanya seekor kodok yang menjulurkan kepala besarnya yang jelek keluar dari air.
"Oh, kamukah yang berbicara?" kata sang putri; "Saya menangis karena bola emas saya tergelincir dan jatuh kedalam sumur."
"Jangan kuatir, jangan menangis," jawab sang kodok, "Saya bisa menolong kamu; tetapi apa yang bisa kamu berikan kepada saya apabila saya dapat mengambil bola emas tersebut?"
"Apapun yang kamu inginkan," katanya; "pakaian, mutiara dan perhiasan manapun yang kamu mau, ataupun mahkota emas yang saya pakai ini."
"Pakaian, mutiara, perhiasan dan mahkota emas mu bukanlah untuk saya," jawab sang kodok; "Bila saja kamu menyukaiku, dan menganggap saya sebagai teman bermain, dan membiarkan saya duduk di mejamu, dan makan dari piringmu, dan minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu, - jika kamu berjanji akan melakukan semua ini, saya akan menyelam ke bawah sumur dan mengambilkan bola emas tersebut untuk kamu."
"Ya tentu," jawab sang putri raja; "Saya berjanji akan melakukan semua yang kamu minta jika kamu mau mengambilkan bola emas ku."
Tetapi putri raja tersebut berpikir, "Omong kosong apa yang dikatakan oleh kodok ini! seolah-olah sang kodok ini bisa melakukan apa yang dimintanya selain berkoak-koak dengan kodok lain, bagaimana dia bisa menjadi pendamping seseorang."
Tetapi kodok tersebut, begitu mendengar sang putri mengucapkan janjinya, menarik kepalanya masuk kembali ke dalam air dan mulai menyelam turun, setelah beberapa saat dia kembali kepermukaan dengan bola emas pada mulutnya dan melemparkannya ke atas rumput.
Putri raja menjadi sangat senang melihat mainannya kembali, dan dia mengambilnya dengan cepat dan lari menjauh.
"Berhenti, berhenti!" teriak sang kodok; "bawalah aku pergi juga, saya tidak dapat lari secepat kamu!"
Tetapi hal itu tidak berguna karena sang putri itu tidak mau mendengarkannya dan mempercepat larinya pulang ke rumah, dan dengan cepat melupakan kejadian dengan sang kodok, yang masuk kembali ke dalam sumur.
Hari berikutnya, ketika putri Raja sedang duduk di meja makan dan makan bersama Raja dan menteri-menterinya di piring emasnya, terdengar suara sesuatu yang meloncat-loncat di tangga, dan kemudian terdengar suara ketukan di pintu dan sebuah suara yang berkata "Putri raja yang termuda, biarkanlah saya masuk!"
Putri Raja yang termuda itu kemudian berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut, ketika dia melihat seekor kodok yang duduk di luar, dia menutup pintu tersebut kembali dengan cepat dan tergesa-gesa duduk kembali di kursinya dengan perasaan gelisah. Raja yang menyadari perubahan tersebut berkata,
"Anakku, apa yang kamu takutkan? apakah ada raksasa berdiri di luar pintu dan siap untuk membawa kamu pergi?"
"Oh.. tidak," jawabnya; "tidak ada raksasa, hanya kodok jelek."
"Dan apa yang kodok itu minta?" tanya sang Raja.
"Oh papa," jawabnya, "ketika saya sedang duduk di sumur kemarin dan bermain dengan bola emas, bola tersebut tergelincir jatuh ke dalam sumur, dan ketika saya menangis karena kehilangan bola emas itu, seekor kodok datang dan berjanji untuk mengambilkan bola tersebut dengan syarat bahwa saya akan membiarkannya menemaniku, tetapi saya berpikir bahwa dia tidak mungkin meninggalkan air dan mendatangiku; sekarang dia berada di luar pintu, dan ingin datang kepadaku."
Dan kemudian mereka semua mendengar kembali ketukan kedua di pintu dan berkata,
"Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untuk saya!, Apa yang pernah kamu janjikan kepadaku? Putri Raja yang termuda, bukalah pintu untukku!"
"Apa yang pernah kamu janjikan harus kamu penuhi," kata sang Raja; "sekarang biarkanlah dia masuk."
Ketika dia membuka pintu, kodok tersebut melompat masuk, mengikutinya terus hingga putri tersebut duduk kembali di kursinya. Kemudian dia berhenti dan memohon, "Angkatlah saya supaya saya bisa duduk denganmu."
Tetapi putri Raja tidak memperdulikan kodok tersebut sampai sang Raja memerintahkannya kembali. Ketika sang kodok sudah duduk di kursi, dia meminta agar dia dinaikkan di atas meja, dan disana dia berkata lagi,
"Sekarang bisakah kamu menarik piring makanmu lebih dekat, agar kita bisa makan bersama."
Dan putri Raja tersebut melakukan apa yang diminta oleh sang kodok, tetapi semua dapat melihat bahwa putri tersebut hanya terpaksa melakukannya.
"Saya merasa cukup sekarang," kata sang kodok pada akhirnya, "dan saya merasa sangat lelah, kamu harus membawa saya ke kamarmu, saya akan tidur di ranjangmu."
Kemudian putri Raja tersebut mulai menangis membayangkan kodok yang dingin tersebut tidur di tempat tidurnya yang bersih. Sekarang sang Raja dengan marah berkata kepada putrinya,
"Kamu adalah putri Raja dan apa yang kamu janjikan harus kamu penuhi."
Sekarang putri Raja mengangkat kodok tersebut dengan tangannya, membawanya ke kamarnya di lantai atas dan menaruhnya di sudut kamar, dan ketika sang putri mulai berbaring untuk tidur, kodok tersebut datang dan berkata, "Saya sekarang lelah dan ingin tidur seperti kamu, angkatlah saya keatas ranjangmu, atau saya akan melaporkannya kepada ayahmu."
Putri raja tersebut menjadi sangat marah, mengangkat kodok tersebut keatas dan melemparkannya ke dinding sambil menangis,
"Diamlah kamu kodok jelek!"
Tetapi ketika kodok tersebut jatuh ke lantai, dia berubah dari kodok menjadi seseorang pangeran yang sangat tampan. Saat itu juga pangeran tersebut menceritakan semua kejadian yang dialami, bagaimana seorang penyihir telah membuat kutukan kepada pangeran tersebut, dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk bersama-sama memerintah di kerajaannya.
Dengan persetujuan Raja, mereka berdua dinikahkan dan saat itu datanglah sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda dan diiringi oleh Henry pelayan setia sang Pangeran untuk membawa sang Putri dan sang Pangeran ke kerajaannya sendiri. Ketika kereta tersebut mulai berjalan membawa keduanya, sang Pangeran mendengarkan suara seperti ada yang patah di belakang kereta. Saat itu sang Pangeran langsung berkata kepada Henry pelayan setia, "Henry, roda kereta mungkin patah!", tetapi Henry menjawab, "Roda kereta tidak patah, hanya ikatan rantai yang mengikat hatiku yang patah, akhirnya saya bisa terbebas dari ikatan ini".
Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran, dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pangeran kodok ini adalah
Kesetiaan itu sangat mahal harganya dan suatu janji harus dipenuhi, karena itu janganlah kita sembarang membuat janji.
Dongeng Pangeran Kodok (Brothers Grimm) | DONGENG ANAK DUNIA
| dongeng pandai besi dan anjingnya |
Seorang pandai besi memiliki anjing kecil yang biasanya tertidur ketika tuannya sedang bekerja, dan terjaga ketika tiba waktunya untuk makan.
Suatu hari tuannya berpura-pura marah akan hal ini. Dan ketika sang Pandai Besi melemparkan sepotong tulang untuk makanan anjingnya, seperti yang biasa dilakukannya, ia pun berkata,
"Apa gunanya makhluk malas seperti kamu? Ketika saya bekerja keras memukul besi, kamu hanya meringkuk dan tidur nyenyak, tetapi tidak lama setelah saya berhenti bekerja untuk beristirahat makan, kamupun bangun dan mengibaskan ekormu minta diberi makan."
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng pandai besi dan anjingnya ini adalah
Mereka yang malas bekerja, wajar apabila mengalami kelaparan.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Pandai Besi dan Anjingnya (Aesop) | DONGENG ANAK DUNIA
Seorang pria yang dianggap paling hemat di sebuah kerajaan tertentu mendengar kabar bahwa ada seorang pria yang paling hemat di seluruh dunia. Dia pun berkata kepada putranya: "Kita memang hidup sangat hemat, tapi jika kita bisa lebih hemat lagi, kita mungkin bisa hidup tanpa mengeluarkan biaya apapun juga. Sebaiknya kita belajar dan mendapatkan petunjuk dari kehidupan ekonomi orang yang paling hemat di dunia." Putranya setuju, dan keduanya memutuskan bahwa sang Putra akan pergi dan bermohon agar orang yang paling ahli dalam ilmu ekonomi ini bisa mengangkatnya sebagai murid.
| dongeng orang yang paling hemat di dunia |
Sudah merupakan tradisi bahwa orang yang bertamu dan berharap untuk belajar, membawa sedikit hadiah untuk mempererat hubungan, maka sang ayah memerintahkan putranya untuk mengambil koin dengan nilai terkecil, dan membeli selembar kertas dari jenis termurah. Pemuda itu pun berangkat ke pasar, dan setelah melakukan tawar-menawar yang lama, ia berhasil mendapatkan dua lembar kertas dengan uang tersebut. Sang ayah lalu menyimpan selembar kertas, lalu memotong lembaran lainnya menjadi setengah bagian, dan pada bagian tersebut, di gambarlah sebuah kepala kambing. Lalu dia memasukkannya ke dalam keranjang yang besar. Putranya kemudian membawa keranjang tersebut dan melakukan perjalanan panjang untuk mencapai tempat tinggal orang yang terkenal paling hemat di dunia dan dianggap sebagai ahli dalam bidang ekonomi oleh ayahnya.
Sayangnya pemilik rumah yang dikunjungi, tidak berada dalam rumah, dan hanya seorang putranya yang menerima kedatangan tamu jauh ini. Putra orang yang paling hemat di seluruh dunia menanyakan tujuan kedatangannya, lalu menerima pemberian hadiahnya. Setelah ia mengambil gambar kepala kambing dari dalam keranjang, ia pun berkata dengan penuh sopan santun dan basa-basi kepada tamunya: "Saya minta maaf karena tidak ada sesuatu pun yang berharga dan bisa menggantikan hadiah kepala kambing yang kamu berikan. Tetapi, saya tetap akan membalas hadiahmu sebagai tanda persahabatan kita dengan memberikan kamu empat buah jeruk agar dapat kamu bawa pulang ke rumahmu."
Kemudian pemuda itu, tanpa memegang jeruk di tangan, membuat gerakan seolah-olah memegang jeruk khayalan dan menempatkan buah jeruk khayalan itu ke dalam keranjang. Putra orang yang paling hemat dalam kerajaan kemudian mengambil keranjang tersebut dan pulang ke ayahnya untuk menceritakan penghematan yang melampaui penghematan mereka sendiri.
Ketika orang yang paling hemat di seluruh dunia kembali ke rumah, putranya menceritakan kepadanya tentang tamu yang datang dari kota yang jaraknya sangat jauh untuk mendapatkan pelajaran dalam bidang perekonomian. Sang ayah bertanya apa yang tamunya berikan sebagai hadiah kunjungan, dan putranya pun menunjukkan kertas kecil yang bergambarkan kepala kambing. Sang ayah melihatnya, dan kemudian menanyakan apa yang putranya berikan sebagai hadiah balasan. Putranya mengatakan kepadanya bahwa ia hanya membuat gerakan seolah-olah telah memberikan empat buah jeruk, dan menunjukkan bagaimana ia menggenggam buah jeruk khayalan yang kemudian disimpan ke dalam keranjang tamunya. Sang ayah langsung menjadi marah dan berseru di telinga putranya: "Kamu sangat boros sekali, dengan jari-jari mu tadi, kamu telah memberi mereka jeruk yang besar, mengapa engkau tidak memberinya jeruk yang lebih kecil?"
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng orang yang paling hemat di dunia ini adalah
Dongeng Orang yang Paling Hemat Di Dunia (Tidak dikenal) | DONGENG ANAK DUNIA
Dahulu kala ada seorang laki-laki tua yang mempunyai benjolan besar di sebelah kanan wajahnya.
Suatu hari dia pergi ke gunung untuk memotong kayu, ketika hujan mulai turun dan angin bertiup sangat kencang, dia merasa tidak mungkin untuk pulang ke rumah, dengan ketakutan, dia mengambil tempat perlindungan di dalam rongga sebuah pohon tua. Ketika duduk meringkuk dan tak dapat tidur, dia mendengar bunyi banyak suara yang membingungkan di kejauhan yang perlahan-lahan mendekat ke arah mana dia berada.
Dia berkata kepada sendiri: "Aneh sekali!" Saya menyangka saya seorang diri saja di gunung ini, tetapi saya mendengar suara banyak orang disini."
Oleh sebab itu, dengan sedikit keberanian, dia mengintip, dan melihat kerumunan besar dari orang-orang yang kelihatan aneh. Ada yang berwarna merah, dan berpakaian hijau; yang lainnya berwarna hitam dan berpakaian merah; ada yang hanya memiliki satu mata; sedangkan yang lain tidak mempunyai mulut; memang, sangat tidak mungkin untuk menggambarkan berbagai macam bentuk dan keanehan mereka.
Mereka menyalakan api, sehingga menjadi sangat terang seperti di siang hari. Mereka duduk dalam dua barisan yang melintang, dan mulai meminum anggur dan bergembira seperti manusia. Mereka mengedarkan cangkir minuman anggur begitu sering sehingga banyak dari mereka kelihatannya minum terlalu banyak. Salah satu setan muda bangun dan mulai menyanyikan lagu gembira dan menari; begitu juga dengan yang lainnya; beberapa dapat menari dengan baik dan yang lainnya menari dengan sangat buruk. Salah satunya berkata : "Kita sudah menikmati kesenangan yang luar biasa malam ini, tetapi saya lebih suka melihat hal-hal yang baru."
Dia berkata kepada sendiri: "Aneh sekali!" Saya menyangka saya seorang diri saja di gunung ini, tetapi saya mendengar suara banyak orang disini."
Oleh sebab itu, dengan sedikit keberanian, dia mengintip, dan melihat kerumunan besar dari orang-orang yang kelihatan aneh. Ada yang berwarna merah, dan berpakaian hijau; yang lainnya berwarna hitam dan berpakaian merah; ada yang hanya memiliki satu mata; sedangkan yang lain tidak mempunyai mulut; memang, sangat tidak mungkin untuk menggambarkan berbagai macam bentuk dan keanehan mereka.
Mereka menyalakan api, sehingga menjadi sangat terang seperti di siang hari. Mereka duduk dalam dua barisan yang melintang, dan mulai meminum anggur dan bergembira seperti manusia. Mereka mengedarkan cangkir minuman anggur begitu sering sehingga banyak dari mereka kelihatannya minum terlalu banyak. Salah satu setan muda bangun dan mulai menyanyikan lagu gembira dan menari; begitu juga dengan yang lainnya; beberapa dapat menari dengan baik dan yang lainnya menari dengan sangat buruk. Salah satunya berkata : "Kita sudah menikmati kesenangan yang luar biasa malam ini, tetapi saya lebih suka melihat hal-hal yang baru."
Lalu orang tua itu, hilang rasa takutnya, berpikir bahwa dia juga ingin menari, dan berkata, "Apa yang akan terjadi, terjadilah, bila karena hal ini saya harus meninggal, saya harus tetap akan menari juga," Dia menyelinap keluar dari rongga pohon dan, dengan penutup kepala yang diselipkan menutupi hidungnya dan kapak yang tergantung di pinggangnya, dia mulai menari.
Setan-setan itu terlonjak kaget dan berkata, "Siapa ini?" tetapi orang tua itu berayun maju mundur, ke kiri dan ke kanan, semua kerumunan tersebut tertawa dan menikmati tarian yang dibawakan oleh orang tua itu, dan berkata:
"Orang tua itu menari dengan sangat bagus! Kamu harus selalu datang dan menemani kami menari disini, tetapi, kami takut kamu mungkin tidak akan datang, jadi kamu harus memberi kami jaminan bahwa kamu akan datang."
Jadi setan-setan tersebut mulai berunding sesamanya, dan, setuju bahwa benjolan di wajah orang tua itu adalah kekayaan yang pasti sangat tinggi nilainya, dan menuntut untuk diambil sebagai jaminan. Orang tua itu membalas berkata: "Saya memiliki benjolan ini selama bertahun-tahun, dan saya tidak memiliki alasan untuk berpisah dengan benjolan ini, tetapi kamu bisa mengambilnya, atau sebuah mataku, hidung atau apapun yang kamu inginkan."
Lalu setan tersebut memegang benjolan tersebut, memutar dan menariknya, mengambilnya tanpa menimbulkan rasa sakit sedikitpun, dan menyimpannya sebagai jaminan bahwa orang tua itu akan kembali. Ketika hari mulai fajar, burung-burung mulai bernyanyi, setan-setan tersebut terburu-buru untuk pergi.
Setan-setan itu terlonjak kaget dan berkata, "Siapa ini?" tetapi orang tua itu berayun maju mundur, ke kiri dan ke kanan, semua kerumunan tersebut tertawa dan menikmati tarian yang dibawakan oleh orang tua itu, dan berkata:
"Orang tua itu menari dengan sangat bagus! Kamu harus selalu datang dan menemani kami menari disini, tetapi, kami takut kamu mungkin tidak akan datang, jadi kamu harus memberi kami jaminan bahwa kamu akan datang."
Jadi setan-setan tersebut mulai berunding sesamanya, dan, setuju bahwa benjolan di wajah orang tua itu adalah kekayaan yang pasti sangat tinggi nilainya, dan menuntut untuk diambil sebagai jaminan. Orang tua itu membalas berkata: "Saya memiliki benjolan ini selama bertahun-tahun, dan saya tidak memiliki alasan untuk berpisah dengan benjolan ini, tetapi kamu bisa mengambilnya, atau sebuah mataku, hidung atau apapun yang kamu inginkan."
Lalu setan tersebut memegang benjolan tersebut, memutar dan menariknya, mengambilnya tanpa menimbulkan rasa sakit sedikitpun, dan menyimpannya sebagai jaminan bahwa orang tua itu akan kembali. Ketika hari mulai fajar, burung-burung mulai bernyanyi, setan-setan tersebut terburu-buru untuk pergi.
Orang tua itu meraba wajahnya dan menemukan bahwa wajahnya menjadi mulus tanpa ada benjolan besar lagi di wajahnya. Dia lupa akan kayu yang dipotongnya dan terburu-buru untuk pulang. Istrinya, begitu melihat dia, berteriak kegirangan dan berkata, "Apa yang terjadi denganmu?" Lalu orang tua itu menceritakan semua kisah yang terjadi padanya.
| dongeng orang tua dan setan |
Lalu dia berangkat ke gunung dan menyelinap ke rongga pohon yang disebutkan oleh orang tua pertama dan menunggu hingga setan-setan tersebut muncul. Dengan keyakinan penuh, setan-setan tersebut datang seperti yang dikatakan, dan mereka mulai duduk, meminum anggur dan bergembira seperti sebelumnya.
Orang tua yang kedua ini, ketakutan dan mulai gemetar, menyelinap keluar dari rongga pohon. Setan-setan tersebut menyambut kedatangannya dan berkata:
"Orang tua ini telah datang, mari kita lihat dia menari." Tetapi orang tua yang satu ini sangat kaku dan menari tidak sebaik orang tua yang pertama, sehingga setan-setan itu berteriak: "Tarian kamu sangat jelek dan bertambah buruk dan buruk, kami akan memberikan kamu kembali benjolan yang kami ambil sebagai jaminan."
Saat itu, setan yang membawa benjolan tersebut menempelkannya pada sisi wajah kanan si orang tua itu; orang tua yang sial itu akhirnya pulang kerumah dengan benjolan pada kedua sisi wajahnya.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng orang tua dan setan ini adalah
Janganlah kita meniru apa yang dilakukan orang lain, karena belum tentu baik adanya.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home
Dongeng Orang tua dan Setan (Tidak dikenal) | DONGENG ANAK DUNIA
Pernah ada sebuah rumah yang mulai terbakar, di mana salah seorang penghuni rumah tersebut adalah orang yang terbaring sakit dan tak bisa bergerak.
Saat itu, masuklah seorang petugas pemadam kebakaran untuk menyelamatkannya, tetapi si Orang Sakit berkata:
"Tidak usah pedulikan saya," kata si Orang Sakit, "Selamatkanlah orang yang sehat terlebih dahulu."
"Bisakah engkau memberi tahu saya alasan anda berkata begitu?" tanya si Pemadam Kebakaran.
"Saya merasa ini adalah pilihan yang paling baik dan adil," kata si Orang Sakit. "Yang kuat harus didahulukan karena mereka bisa menyumbangkan tenaganya dan memberikan jasanya lebih banyak dibandingkan orang yang lemah dan sakit-sakitan."
Si Pemadam Kebakaran merenung beberapa saat, lalu berkata "Saya bisa saja mengabulkan permintaan kamu tadi, tapi coba anda jelaskan, tugas dan jasa-jasa apa saja yang bisa diberikan oleh orang yang sehat dan kuat?"
"Tugas orang yang lebih kuat adalah membantu orang yang lemah."
| dongeng orang sakit dan petugas pemadam kebakaran |
Si Pemadam Kebakaran kembali merenung sebentar, lalu berkata kembali, "Saya mengerti bahwa kamu berada dalam kondisi kurang sehat, tapi saya tidak mengerti mengapa engkau begitu bodoh." Lalu si Pemadam Kebakaran pun mengangkat si Orang Sakit dari tempat tidurnya dan menyelamatkannya keluar dari rumah yang terbakar.
Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng orang sakit dan petugas pemadam kebakaran ini adalah
Baiklah kita memiliki sifat rendah hati tetapi bukan merendahkan diri sendiri.
Lihat Dongeng Berikutnya
Kembali ke Home